Kita itu mendapatkan hadits dan pengajaran fikih lebih seringnya dari internet, buku, atau ceramahnya ustadz Anu sambil lalu. Buku yang kita baca cuma terjemahan, itu pun kita tidak mengenal persis siapa penerjemahnya. Buku yang diterjemahkan atau yang dibaca para ustadz sekalipun Arab-Arab gitu juga pasti bukan buku salinan asli dari tulisan tangan si penulisnya, apalagi jika penulisnya adalah para ulama di zaman pra Utsmaniyah, maka otentisitasnya berhak kita sangsikan. Dan sesungguhnya jika ada informasi sepihak semakin pantas kita ragukan dengan adanya era informasi yang penuh kedustaan dan banyaknya perpecahan di antara sesama kita karena industrialisasi agama dalam wujud badan-badan resmi keagamaan.

Itulah mengapa saya rujuk pada tradisi berguru dan memperhatikan betul siapa guru-guru dari orang yang saya ikuti. Itu pun bergurunya ke banyak tipe pemikiran agar jangan fanatik pada satu golongan saja. Tradisi belajar para guru yang memahami urusan agama ini pasti mengutamakan al Quran sebelum merujuk pada hadits, karena yang menjadi patokan utama ya kitab Allah ini. Sehingga secara natural, masyarakat akan lebih mudah disatukan melalui pendekatan al Quran sambil dijelaskan posisi hadits dalam bangunan hukum-hukum Islam-nya. Dan guru-guru yang baik, pasti selalu menghindarkan siapa pun agar tidak berkonflik pada persoalan yang remeh-remeh. Apalagi konfliknya cuma rebutan balung gajah, alias nggragas urusan kadonyan. Itu memalukan, tapi paling banyak dilakukan oleh kebanyakan orang sekarang, bahkan di level ustadz yang punya pengikut banyak sekalipun.

Bahkan tuduh menuduh soal Sunni-Syiah yang marak terjadi, setelah dipelajari ya ternyata urusan saingan pengikut dan kapital saja. Pengikut Syiah yang hidup normal dengan akhlaknya yang baik tidak terjamah dan tidak ikutan ambil pusing soal konflik duit semacam ini. Ya menurutku nggak ada bedanya mau alirannya Sunni apa Syiah kalau konfliknya urusannya duit, wong agama mereka berdua toh juga sama, Minhajul Fulus juga. Itu yang di skala lokal di salah satu kota di Indonesia yang berhasil kuidentifikasi. Saya rasa kasus serupa juga berlaku di banyak tempat. Dan kasus perang di Timur Tengah saya juga lebih yakin bahwa konfliknya juga seputar itu, apalagi NATO maupun Rusia ikut turun tangan. Apalagi di sana ada ladang minyak dan di negara maju perusahaan senjatanya sedang kelebihan stok, kapan lagi laku dijual kalau tidak ada pihak-pihak yang dikorbankan untuk diadu domba.

Ngawen, 29 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.