Terlahir dari keluarga dan lingkungan yang lazim disebut “Islam” adalah anugerah tersendiri bagiku. Terlebih lagi aku dilahirkan di tanah Nusantara dengan sunatullah sebagai manusia Jawa. Konon, peradaban Nusantara ini adalah ibu dari peradaban lainnya di seluruh dunia.

Mengapa? Salah satu alasan konyolnya dapat dilihat dari betapa fasihnya lidah kita berucap segala bahasa tanpa ada kendala. Tapi cobalah tes orang Arab, Eropa, dan Asia lainnya berucap bahasa lainnya seperti kita, pasti kita tidak tahan tertawa melihat betapa sulitnya mengucapkan bahasa asing di luar bahasanya. Baiklah, tapi argumentasi konyol ini jelas tidak bisa diterima secara ilmiah, apalagi kata ilmiah sendiri hari ini adalah hak orang-orang Barat.

Sejak kecil, sekalipun hidup di lingkungan masyarakat yang mayoritas Islam, aku menghadapi kondisi umat yang memang dakwahnya belum selesai. Mungkin ini juga dialami banyak anak muda di Nusantara yang daerahnya bukan basis pesantren dan daerah-daerah yang berhasil dikelola secara intensif oleh para pegiat dakwah.

Demikianlah kehidupan masa kecilku sebagai anak “abangan”, yang jangankan shalat, prinsip-prinsip Tauhid pun entah bagaimana memprosesnya. Tapi satu-satunya hal otentik yang membuatku bahagia dan terus menjadi inspirasi hari ini adalah aku masih merasakan kultur hidup sebagai orang desa dengan segala pengetahuan otentiknya.

Modal inilah yang kelak membuatku terus mencari dan belajar tanpa harus menjadi seorang yang sangat fanatik terhadap golongan-golongan umat Islam hari ini. Sejak SMP aku mulai banyak mengenal perbedaan dari ormas Islam dan mempelajari setiap kemungkinan itu. Puncaknya adalah saat SMA dimana saya mencoba meraih input sebanyak-banyaknya dari berbagai ormas yang berkembang di daerah sekitar sekolah. Meski demikian, pemahaman utuh itu baru mengkristal di tahun keempat perkuliahanku di kampus.

Ibarat orang memeras saripati buah, inilah fase aku mulai bisa mengkonfigurasikan cara berpikir dan menyerap mata air kehidupan dari para bijak yang mengajarkan nilai-nilai kemuliaan hidup. Di masa-masa emas inilah aku dengan segala kelemahan (dan masih harus terus memerangi gejala kebiasaan buruk pribadi) menemukan titik-titik kesimpulan pencarian kehidupan yang selama ini menjadi kabut, sebagaimana membuat kebanyakan umat Islam di Nusantara kehilangan arah mereka. Terlebih pasca-reformasi yang konon menjadi era baru pemerintahan negeri ini, namun tidak memberikan apapun kecuali kebebasan yang ternyata semakin menjauhkan bangsa dari “orang tua”-nya.

Era pasca-reformasi adalah era kapitalisme yang sesungguhnya di mana setiap hal mengalami degradasi nilai karena semuanya diperhitungkan berdasarkan akumulasi dan kepemilikannya. Pun demikian dalam kehidupan beragama di mana ormas Islam terjebak pada pelabelan status keumatan dan hal-hal yang berbau pencitraan.

Maka tidak perlu heran jika buah lainnya adalah perseteruan antar umat Islam yang hari ini bisa dibilang semakin “kenthir” dan tidak jelas juntrungannya. Dan yang paling terkena imbasnya adalah orang-orang yang ingin menjalani Islam dengan baik, mereka hari ini hampir tidak punya kemungkinan untuk sekedar ber-Islam saja tanpa embel-embel apa pun di belakangnya. Mau tidak mau, mereka mengikuti trend dengan melabeli dirinya dengan Islam A, B, C, dan D yang konsepnya berbeda dengan era dahulu, di masa-masa perjuangan.

Baiklah, tapi tidak masalah kita berkhidmat pada organisasi, ormas atau perkumpulan Islam mana pun selama di dalam proses itu kita meletakkan pondasi belajar dan pencarian kebenaran sebagai prioritas utama, bukan untuk mengindetifikasi diri secara fanantik menjadi seperti yang dikehendaki institusi tersebut. Karena saya pun demikian, semata-mata agar dapat bersosialisasi dan terus belajar tentang Islam.

Karena yang paling benar ya Islam yang dibawa oleh Rasulullah, dan jalan-jalan yang seharusnya ditempuh setiap umat Islam yang mengaku mencintai beliau adalah terus belajar mengidentifikasi jalur ilmu yang sampai ke beliau, dengan penuh kerendahan hati, tanpa dilatari kesombongan untuk merendahkan orang lain yang tidak sepaham dengan kita. Karena bagaimana mungkin kita memastikan bahwa metode yang kita tempuh pasti benar 100 %, wong kita tidak pernah menjadi saksi hidup Rasulullah. Apalagi hari ini, dunia sudah penuh dengan kabut kebohongan informasi di mana metode ilmu pun telah menjadi monopoli kaum Barat yang dengan semangat kolonialisasinya mereka menyemati bangsa-bangsa Timur (tempat mereka dahulu menggali pengetahuan menuju masa Renaissance) dengan sebutan bangsa tradisional dan belum modern.

Inilah yang saya maksud dari kabut peradaban Islam. Umat Islam hari ini telah mengalami inferioritas yang sungguh akut terhadap jati diri mereka sendiri. Bahkan dalam beragama pun mereka tidak memiliki kemungkinan untuk memahami Islam sebagai sebuah jalan kedamaian karena setiap hari kita disuguhi informasi tentang terorisme, tentang keterbelakangan, dan tentang pertentangan antar madzhab. Bukankah otentisitas Islam itu ada al-Quran dan penerapan pertamanya di dalam periode dakwah Makkah dan Madinah? Mengapa hampir sedikit sekali literatur yang dikaji oleh kaum pergerakan tentang fenomena tersebut.

Hari ini di diskusi-diskusi pergerakan Islam, lebih banyak dikaji bagaimana menjadikan diri mereka bukan menjadi pencari kebenaran Islam, tetapi justru sibuk untuk membangga-banggakan diri serta merendahkan orang-orang yang tidak segolongan dengannya lagi. Bukankah metode semacam ini justru lebih bermuatan politis sekalipun mereka tidak pernah mengaku sebagai politisi. Padahal khazanah keilmuan dalam dunia Islam teramat luas, tidak hanya dalam dimensi ibadah, tetapi menyangkut ke segala aspek kehidupan.

Kemajuan Eropa tak lepas dari proses belajar sarjana-sarjana mereka di Universitas Cordoba dan lainnya di Andalusia (Spanyol). Hal itu ditambah lagi dengan pengambilan seluruh manuskrip penting tentang ilmu pengetahuan pasca penaklukan kekuasaan Islam di ujung barat Eropa tersebut. Tapi hari ini, umat Islam justru terus terpuruk dalam ketidakpercayaan diri mereka.

Melihat Timur Tengah hari ini, rasanya mereka sulit diharapakn menjadi tonggak pembangun peradaban Islam mengingat gaya hidup para pembesarnya yang sudah sangat hedonis dan kultur masyarakatnya yang seolah memilih kembali ke jahiliyah, melupakan kebesaran mereka di masa lalu sebagai penguasa Islam. Dengan dipicu sedikit perbedaan, mereka sudah terus berperang satu sama lain secara membabi buta dengan tidak ada habisnya. Jika sudah seperti itu, Palestina lah yang paling menderita karena tidak ada yang memperhatikannya.

Justru yang masih berpotensi besar adalah bangsa ini, bangsa di Nusantara ini. Karena di sini toleransi kehidupan masih jauh lebih baik. Di tanah kepulauan ini, Islam belum terideologisasikan secara ekstrim dan masyarakatnya masih menghargai perbedaan pandangan. Meskipun semakin ke sini, rasanya kita terus diprovokasi untuk saling bermusuhan satu sama lain.

Tugas generasi muda hari ini adalah meniti kembali sejarah itu, mengenali para leluhur kita. Membuka kabut peradaban Islam yang pernah menjadi bagian primer dari sejarah Nusantara (setelah lama dimanipulasi oleh penulisan sejarah di dunia pendidikan), menyambung nasab keilmuannya hingga masa Rasulullah diutus oleh Allah di jazirah Arab.

Setidaknya, saya cukup bahagia sepulang dari Eropa dapat melakukan studi komparasi yang serius tentang kebudayaan. Saya tidak lagi merasa inferior sebagai orang Jawa di Nusantara ini. Bagaimana kita akan minder, wong leluhur kita adalah moyang dari peradaban dunia ini. Kita mampu melakukan banyak hal, hanya saja kita sedang mengalami kemunduran peradaban yang sangat serius sejak era kolonialisme merambahi tanah Nusantara.

Kepada semua pembaca, jika ingin melihat wajah Islam, maka bacalah al-Quran dan lakukan riset yang memadai tentang fakta Peradaban Madinah. Karena di mata air itulah, kita tak pernah bisa mengelak bahwa manusia biasa (namun sangat Istimewa) bernama Muhammad telah berhasil mencetak rekor dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat tribalistik menjadi masyarakat sangat beradab dan berkesadaran hukum sehingga mampu mengajarkan humanisme yang lebih tinggi melebihi Romawi dan Persia yang telah menjadi dua kekuatan super power dunia saat itu.

Bagaimana mungkin kita merasa paripurna dalam belajar Islam? Bahkan dua kali lipat usia kita di dunia pun tak akan mampu menafsiri dan mengamalkan al-Quran sebagaimana kualitas Rasulullah dan generasi pertama umat Islam di dunia. Maka mari saling berendah hati, bahwa ilmu kita harus terus ditambah, dikoreksi, dan diperbaiki tanpa harus bermusuhan. Mari saling menasihati agar visi menuju Islam yang haqq seperti Rasulullah tidak goyah karena tipuan dunia yang terus menggoda kita tak ada habisnya ini.

Semoga tulisan ini dapat menginspirasi pembaca semuanya!

Surakarta, 24 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.