Menurut saya, kajian konspirasi yang paling masuk akal adalah yang titik keberangkatannya dari dua hal, yakni perseteruan antara pengikut Isa dengan Romawi hingga melahirkan cerita ashabul Kahfi dan saat riba mulai menguasai dunia hingga melahirkan institusi ekonomi bernama bank.

Kejadian pertama menunjukkan bahwa terjadi manipulasi serius dalam teologi sebelum lahirnya Rasulullah dan disempurnakannya syariat Islam, sehingga hingga hari ini melahirkan banyak spekulasi keagamaan dan pola yang selalu sama, seperti pecahnya ajaran Kristen menjadi dua kelompok besar, awalnya Kristen Barat dan Timur, lalu Kristen Barat pecah lagi menjadi Katholik dan Protestan, dan setelahnya terjadi pembelahan yang banyak.

Demikian pula di masa Islam, sepeninggal Rasulullah dan para khalifah Rasyidah pecah menjadi Sunni dan Syiah, baik Sunni dan Syiah lahir lagi perpecahan di dalamnya secara bertahap. Bahkan Muhammadiyah dan NU yang awalnya adalah dua model gerakan dakwah yang saling mengisi kini menjadi 2 “agama baru” di dalam agama Islam, dan para pengikutnya banyak yang terjebak pada fanatisme golongan yang berlebihan. Belum lagi aliran Islam impor yang hadir belakangan.

Kejadian kedua menunjukkan adanya transformasi radikal pada bidang ekonomi yang mengakibatkan kerusakan akidah umat Islam, dari yang semula bertauhid kepada Allah menjadi musyrik karena perubahan cara pandangnya terhadap harta dan kekayaan. Pembelokan cara pandang dilakukan lewat perang pemikiran terus menerus dan dipicu dengan kapitalisme untuk mempercepat proses keterjajahan pola pikir tersebut.

Jika dulu shalat adalah benteng pertahanan dari kemusyrikan, sekarang ritual-ritual ibadah justru sering dijadikan ritus kemusyrikan karena perubahan cara pandang yang ada pada pikiran sehingga merusak keteguhan hati umat Islam. Jika dahulu berhala itu lebih nyata dalam wujud benda yang bisa dibasmi di Fathul Makkah, kini berhala itu lebih kuat menancap di pikiran dalam bentuk kerusakan filsafat berpikir sehingga melahirkan ideologi, ilmu, dan teknologi yang disalahgunakan untuk merusak kehidupan.

Maka akibatnya seluruh di dunia, baik dari sisi politik, sosial, kebudayaan, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya mengalami transformasi nilai ke arah kemusyrikan akibat dirusak oleh kerancuan teologis dan cara pandang mendasar secara ekonomi. Tidak banyak di antara kita yang menyadari betapa mengerikannya instusi ekonomi yang dikuasai segelintir orang saja itu melahirkan malapetaka panjang dalam sejarah manusia. Kini ketika trend wacana Islam menguat, terobosan untuk Islamisasi ekonomi berusaha dilakukan. Tapi lebih banyak gagalnya dan ujungnya disantap juga oleh kapitalisme menjadi produk baru yang menyasar konsumen di kalangan umat Islam.

Demokrasi modern yang sedang jadi arus utama dunia, secara praktik sebenarnya sangat tidak demokratis karena infrastruktur dasarnya dimanipulasi. Contohnya di Indonesia, rakyat kecil lebih banyak dijadikan obyek demokrasi ketimbang subyek demokrasi. Setiap 5 tahun sekali yang berlangsung adalah pembodohan politik, bukan pendidikan politik. Lagi-lagi caranya juga sama, perusakan pola pikir dan tawaran keduniaan berupa suap alias money politik. Dengan kata lain, demokrasi adalah sebentuk teknologi sosial paling mutakhir yang menggabungkan 2 dasar konspirasi di atas untuk menyerang kehidupan manusia.

Maka sangat lucu jika mendadak sekarang orang mulai ribut soal konspirasi, baik soal Zionis, baru-baru ini soal Turki, dan konspirasi-konspirasi yang lain. Menurut saya, itu semua hanya cuilan dari konspirasi panjang yang telah terjadi berabad-abad lamanya. Islam sudah menawarkan cara melawan konspirasi itu lewat kehidupan sederhana, jujur, dan memelihara persatuan seperti yang Rasulullah contohkan. Karena proses perusakan peradaban selalu dimulai dengan kerusakan pola pikir dan nafsu yang berlebihan soal dunia yang berujung kekuasaan untuk menjadi “tuhan”. Jika kita mengikuti ajaran Islam dengan benar, insya Allah kehidupan kita selalu dalam titik keseimbangan.

Juwiring, 20 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.