Kokok Ayam itu denotasi. Sedangkan “kukurukuk” (Jawa), “kukurunuk” (Madura), “kongkorongkong” (Sunda), “kukuruyuk” (Betawi), adalah konotasi, tafsir atas pendengaran terhadap kokok ayam. Demikian perumpamaan yang dibuat Simbah.

Demikian pula Islam, perilaku kehidupan Rasulullah sejak diutus menjadi Rasul hingga wafat itulah denotasi Islam. Maka madzhab-madzhab yang lahir di kemudian adalah usaha keras para ulama untuk menafsir Islam agar mendekati denotasi Islam. Sama persis dengan Islam-nya Rasulullah? Jelas tidak. Dan tidak mungkin ada yang mampu menyamainya lagi.

Maka ketimbang saling menuding dan mencela cara ber-Islam-nya orang lain, mbok fokus meneliti metode yang kita tempuh apakah sudah mendekati ke arah Islam-nya Rasulullah atau belum. Sayangnya hari ini banyak asistennya Gusti Allah yang berkeliaran untuk memberi rapor. Saya sudah sering diberi rapor soal demikian. Terus belajar, fokus pada upaya-upaya perbaikan.

Surakarta, 6 September 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.