Kolonialisme yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa menurut saya juga tidak mereka sadari sepenuhnya. Mereka hanya termakan doktrin tokoh-tokoh mereka sendiri tentang keunggulan ras dalam wacana antroposentrisme yang dijiwai semangat “mengumpulkan kekayaan” akibat kemelaratan yang mereka alami cukup lama.

Akibat kerakusan mereka, toh akhirnya mereka menuai kehancuran ketika mengalami Perang Dunia sampai dua kali. Dengan dua kali tragedi kemanusiaan itu, Eropa mengalami keterpurukannya sendiri. Tapi jaring-jaring kolonialisme terlanjur mengakar kuat di seluruh penjuru dunia dan membentuk tatanan ekonomi baru yang seperti sekarang.

Jaring-jaring itu tentu sangat menguntungkan bagi para pebisnis raksasa. Mereka memiliki kemampuan menguasai perekonomian dunia melalui warisan jejaring kolonialisme itu. Secara perlahan mereka mengendalikan dunia melalui aneka jerat ekonomi kepada para penguasa negara, termasuk masyarakat Eropa sendiri. Meskipun banyak yang menganggap Eropa lebih maju, rakyatnya ya sama-sama menderita secara ekonomi. Hanya saja, tingkat kesadaran bernegara mereka masih relatif lebih kompak ketimbang bekas negara-negara jajahannya yang masih disibukkan dengan persoalan identitas dan perilaku korup para elitnya.

Kini dunia sudah semakin terbuka sejak revolusi digital. Ketika era industri 4.0 benar-benar terjadi, maka gelombang pengangguran baru akan semakin membesar. Semakin mudahnya fasilitas pinjaman / kredit dan semakin ketatnya persaingan kerja (karena banyaknya otomasi dengan robot-robot canggih), manusia akan terjebak pada hutang yang tak mungkin terbayar. Hanya tiga hal yang tidak akan tergantikan oleh mesin-mesin revolusi digital, yaitu sastra, seni, dan spiritualitas. Manusia yang memeganginya dan menjadi spesialis di bidangnya, akan tetap menikmati hidup wajar dan apa adanya, sekalipun badai kehancuran masyarakat membayang di depan mata.

Surakarta, 28 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.