Riba akan hilang perlahan-lahan jika umat Islam (dan umat manusia pada umumnya) menurunkan dua kecenderungan dalam dirinya, yaitu “akumulasi” dan “kepemilikan”.

Mengapa memungut riba? Sebab mencari tambahan pemasukan, itulah akumulasi. Mengapa orang mengakumulasi? Karena ia menyangka bahwa harta itu miliknya, itulah kepemilikan.

Dalam urusan harta, kanjeng Nabi sudah mencontohkan bahwa harta itu hakikatnya titipan, makanya makin dititipi banyak makin gelisah harusnya, bukanĀ malah gembira.

Itulah mengapa Kanjeng Nabi rela hidup sederhana dan makannya sedikit, sebab beliau tidak tertarik pada kebiasaan mengakumulasi, apalagi merasa memiliki, meskipun sebenarnya dijatah 20% dari harta rampasan perang.

Bayangkan saja, setiap kali perang dapat rampasan 1 T misalnya, berarti Nabi dapat jatah 200 M, tapi sampai wafat rumah beliau cuma sebesar kamar-kamar rumah kita, pakaian beliau cuma beberapa potong, dan bahkan kadang-kadang beliau sampai kelaparan. Masak mau bilang harta beliau disimpan di bank? Bank gundulmu.

Jadi nggak usah teriak-teriak anti riba. Tapi mari latih pelan-pelan hidup sederhana. Kalau harus beli barang mahal, pastikan itu adalah sarana-sarana produksi kita. Ora sah kakehan gaya, tapi tetap produktif biar dapat pemasukan banyak dan bisa disalurkan untuk orang lain. Termasuk kalau mbakul, sebisa mungkin partneran agar bisa bagi-bagi untung, aja dipek dewe kabeh.

Surakarta, 6 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.