Pada suatu hari, saya ndengkul bersama salah seorang guru. Salah satu bahasannya adalah hilangnya proporsionalitas orang sekarang dalam berpikir, sehingga menilai berbagai hal pendekatannya ekstrim, tidak logis, apalagi realistis.

Sebagai anak muda yang lagi belajar, saya mungkin sering tidak realistis, tetapi saya berusaha untuk logis, tidak pragmatis – ekstrimis. Ekstrimisme ini melahirkan konsekuensi golongan dan perspektif sempit. Golongan yang ekstrim cenderung eksklusif dengan perspektif sempitnya.

Misalnya, hantu tentang komunisme sampai sekarang selalu melahirkan ketakutan bagi siapa pun yang terlanjur percaya buta untuk anti pada komunisme, sehingga orang takut menginvestigasi sejarahnya. Berikut dampaknya di berbagai bidang hari ini.

Demikian pula orang-orang yang terlanjur anti dengan laskar Islam, kadung mencap orang laskar itu brutal dan preman, tanpa mau melihat perkembangan transformasi mereka yang sekarang semakin filantropis. Justru yang dulunya moderat, sekarang sebagiannya malah menampakkan sikap fanatik ekstrimnya.

Apa pun yang ekstrim itu pasti akan merusak keseimbangan. Sebab ekstrim itu soal sikap yang biasanya dikungkung fanatisme. Perkumpulan yang mendaku moderat, liberal, atau yang katanya paling cair sekalipun akan menjadi ekstrimis ketika sudah terperangkap fanatisme.

Hari ini bentuk ekstrimisme dan fanatisme yang sedang jadi trend adalah PEMERINTAH-ISME. Ramai orang merapat dan menyembah trend itu, mulai dari rakyat jelata hingga yang bergelar ulama. Dengan semesta global yang kapitalistik ini, pemerintah-isme mematikan nalar kritis kita dan membuat siapa pun yang berani mengkritik pemerintah akan dicap anti pemerintah, makar, dan disuruh keluar negeri.

Surakarta, 7 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.