Kita hanya bisa berhusnudzan seseorang itu ulama. Tapi benar tidaknya kan belum tentu.

Orang yang pandai soal hukum Islam, halal-haram dan teman-temannya kan namanya fuqaha. Orang yang pandai urusan hadits kan namanya muhaddits. Orang yang jago matematika kan namanya matematikawan. Dll

Jadi kalau mendadak sekarang kita gampang melabeli orang sebagai ulama. Lalu dengan enteng bilang ulama itu pewaris Nabi, kan jadi nggak nyambung. Kalau pun kita memprasangkai seseorang itu adalah ulama, berarti kan aslinya kita juga baru sekadar memprasangkai bahwa beliau itu pewaris Nabi. Lha kalau masih prasangka, kok dipakai buat eyel-eyelan.

Jadi mari kita hidup dalam prasangka baik bahwa orang-orang yang ahli-ahli macam di atas, jika akhlaknya baik dan moralnya baik maka insya Allah dan semoga dimasukkan dalam kategori ulama. Tapi bagaimana dengan para politisi? Nanti dulu. Yang ini kita harus lebih waspada. Waspada itu tidak sama dengan berprasangka buruk lho ya. Kewaspadaan ini lebih menyangkut bagaimana agar kita tidak kecewa dan mencaci maki jika kebetulan kita ketemu para politisi yang mengecewakan kita.

Sebab perilaku politisi kan memang sangat penuh manuver dan serba tidak terduga. Kita agak susah memahami perilaku mereka. Lha kalau kita nggak waspada kan kita kena bahaya. Yaitu kala kita terlalu memercayai politisi sampai ketika dia mengecewakan kita berubah mencaci makinya. Padahal sudah jelas, bahwa cara bermain mereka memang kayak gitu. Kok kita masih kaget dan kecewa.

Surakarta, 13 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.