Sebentar lagi kita akan Idul Adha, media-media akan segera menulis. “Presiden A berkurban seekor sapi Limosin.” “Gubernur B berkurban seekor sapi Jawa”. dll

Pertanyaannya, sejak kapan ada kewajiban presiden melaksanakan Qurban? Ibadah Qurban itu dianjurkan bagi manusia, bukan bagi presiden. Masalahnya, media-media sekarang itu tidak menganggap manusia, yang dianggap hanya yang punya jabatan atau punya sisi keunikan yang bernilai ekonomis.

Belum lagi dalam urusan pernikahan. Presiden mantu. Pas mantu itu beliau sebagai ayah dong, bukan sebagai presiden. Lebih konyol lagi, “harap kosongkan shaf depan, ada rombongan menteri yang akan shalat di masjid ini.” Itu lebih paidoable lagi, sejak kapan menteri punya kewajiban shalat. Pas di masjid ya manusia. Datang belakangan ya shalat di belakang. Penak men njaluk neng ngarep.

Hal-hal sederhana semacam ini sering disepelekan. Tapi kalau kita terbiasa tidak menyadari bahwa manusia itu memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding jabatan-jabatan yang melekat, kita jadi kacau seperti sekarang. Makanya tidak heran, mendadak banyak yang alergi ketika cawapresnya kiai njuk dilarang dicaci maki. Itu kan bukti betapa politisnya cara berpikir kita sekarang.

Kalau urusan caci maki, kenapa nggak dari dulu dihentikan. Kalau kita sadar bahwa kita sama-sama manusia harusnya nggak boleh mencaci maki kok. Baik menuduh Pak Jokowi anak PKI atau mengejek Pak Prabowo anunya hilang. Itu semua kan menandakan kerusakan cara berpikir kita. Lha kok sekarang mendadak jadi lucu. Yang satu mainnya di soal caci maki, yang satunya memainkan soal tetap menaati fatwa. Padahal intinya kan sama, kampanye. Wkwkwk. Lucu kabeh.

Surakarta, 13 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.