Saya pernah punya pengalaman buruk dengan njangkar di Facebook kepada KH. Quraish Shihab gara-gara beliau berpendapat sesuatu yang saya tidak setuju (dan saat itu membuat saya marah dan benci).

Kemudian teman-teman yang baik menasihati saya. Itu yang saya terus pelajari bagaimana perkara benar dan salah itu rasional saja, jangan dibawa baper ke perasaan suka dan benci. Sehingga ketika melihat caci maki soal perbedaan saat ini saya ngelus dada.

Kalau menyangkut urusan politik sih saya masih agak tidak peduli. Para politisi zaman now memang kebanyakan tidak beradab. Mereka hanya sibuk mengejar kekuasaan saja kok. Tapi jika perseteruan itu terjadi pada sesama umat Islam, alangkah sayangnya. Betapa mengerikannya jika perdebatan berbau fanatisme ini justru ditumbuh suburkan.

Maka dari itu, kasus yang terjadi pada Kiai Yahya C. Staquf ini penting untuk menjadi perhatian para intelektual. Sudah merupakan hal wajar, ada yang setuju dan tidak setuju dengan tindakan Kiai Yahya. Saya termasuk yang tidak setuju, meski dibela-bela dengan alasan yang diuraikan seabreg itu. Tapi, ungkapan-ungkapan penghinaan kepada beliau menurut saya adalah sesuatu yang membahayakan. Sebab dengan adanya cacian keji pada beliau, mengundang balasan yang tak kalah keji juga.

Memang sih, kejadian ini bisa dipahami juga sebagai cara Allah memperlihatkan aslinya kita. Sebab kalau tidak dipancing dengan cara-cara seperti ini, penyakit dalam diri kita tidak bisa kita periksa sendiri-sendiri. Jadi, semoga dengan kejadian yang cukup kompleks dan berbuntut panjang ini, bisa menjadi ajang introspeksi diri ke depan.

Surakarta, 19 Juni 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.