Ketika di kampus saya pernah diberi teori tentang kesadaran manusia sebagai sebuah bagian dari sistem. Pada praktiknya, terjadilah pemberhalaan sistem, di mana manusia-manusia dikerdilkan pikirannya atas nama sistem, entah itu pendidikan, politik, ekonomi, dll sehingga seolah-olah sistem itu lebih besar dari manusianya. Padahal yang bikin sistem itu dulunya juga para manusia.

Itulah mengapa setelah keluar kampus saya membongkar seluruh pemikiran yang menurut saya terbalik itu. Saya kembali melihat personal-personal manusia. Bahwa manusia itu memang sewajarnya ada sisi baiknya, ada sisi tidak baiknya. Saya ikuti sisi baik mereka, dan saya tinggalkan sisi tidak baiknya. Saya hargai para manusia ini dan berusaha untuk tidak rewel melabeli mereka macam-macam.

Sistem-nya Allah itu sesungguhnya membangun keharmonian. Karena pada dasarnya setiap orang diberi amanat untuk membersihkan keburukan dalam dirinya. Dan proses pembersihan keburukan dalam peradaban itu berlangsung induktif artinya melalui keteladanan orang perorang. Itu terbukti ketika Nabi Muhammad menjadi acuan keteladanan, angka peperangan di jazirah Arab selama beliau hidup menurun drastis, dari yang dikit-dikit perang, relatif banyak dibuat perjanjian dan hanya tercatat sekitar 50-an perang selama 9 tahun beliau hidup di Madinah.

Saya rasa cara belajar kita terhadap sejarah harus dikoreksi. Sejarah milik semua manusia, milik rakyat kecil yang setiap hari ditindas penguasa, mereka berhak menulis kisah sejarahnya atas banyaknya penguasa jahat yang menganiaya mereka dan sedikit penguasa adil yang bersama dengan mereka. Sejarah milik alam di sekitar kita, kerusakan mereka adalah bukti bahwa manusia telah melakukan pengkhianatan terhadap apa yang Allah tugaskan. Sejarah tidak melulu soal raja-raja dan orang besar, tapi juga bisa berisi kehidupan petani yang jujur mengabdi selama hidupnya.

Saya mulai jengah dengan pembahasan-pembahasan mainstream yang selalu dipusatkan pada kekuasaan dan memunculkan pemikiran, jika kekuasaan dipegang masalah akan terselesaikan. Dengan kerangka kekuasaan yang fasad seperti zaman sekarang, siapa pun yang berkuasa tidak akan terlalu menyelesaikan masalah, karena sesoleh apa pun penguasa dia akan berhadapan dengan cukong, perusak alam, dan para perampok yang mau tidak mau harus berkompromi atau dihabisi seketika oleh infrastruktur kekuasaan yang dimiliki para bandit ini.

Saya lebih memilih menghayati kehidupan masyarakat bawah yang dibodohi oleh berbagai regulasi yang tidak masuk akal. Mereka yang setiap hari kalang kabut diatur oleh opini dan berbagai pertikaian. Bahkan termasuk perseteruan antar pemuka agama yang senang menggiring masyarakat untuk berpihak kepada kepentingan mereka tanpa memperhatikan dampaknya secara sosial atas keyakinan yang mereka sebut sebagai “kebenaran”. Ada bapak-bapak yang setiap malam nyuluh belut di lumpur persawahan, menjaring ikan di sungai semalaman, ibu-ibu yang sudah bersepeda membawa dagangan sejak dini hari. Mereka bekerja nyata, tapi faktanya dilupakan oleh catatan sejarah manusia.

Saya bukan siapa-siapa, hanya seorang bocah desa yang selalu menangis dengan apa yang saya lihat selama ini. Yang berkesempatan untuk melihat berbagai manipulasi di belakang layar yang sangat jahat, jahat sekali. Semoga Allah selalu meneguhkan kesabaran atas masyarakat teraniaya yang sangat besar jumlahnya ini, jangan biarkan mereka semua larut dalam pembodohan lewat teknologi dan segala manipulasi ini. Sisakan ya Allah sekian hamba-Mu yang tulus. Mereka yang doa-doanya selalu Engkau kabulkan, sehingga kami terjaga dari kehancuran.

Juwiring, 14 Desember 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.