Dalam penggunaan praktis, kata Kristenisasi itu sebenarnya seanalogi dengan Islamisasi. Dalam sudut pandang umat Islam, Kristenisasi adalah ancaman bagi keutuhan jumlah umat Islam. Sedangkan dalam sudut pandang umat Kristen, Islamisasi adalah ancaman bagi keutuhan jumlah umat Kristen.

Maka sikap paranoid terhadap Kristenisasi dan Islamisasi sebenarnya adalah hasil dari kejumudah berpikir sebagai warisan dari pemikiran Snouck Hurgronje yang menghancurkan bangsa ini lewat pengkotak-kotakan dan labelisasi. Bukankah seharusnya kita bersikap fair saja, semua umat beragama yang beriman dengan sungguh-sungguh pada keyakinannya pasti akan memegang doktrin bahwa ajarannya adalah satu-satunya jalan keselamatan. Karenanya, pasti mereka akan mengajak orang lain menuju jalan yang ia yakini membawa keselamatan.

Jadi, jika ada seorang pastur/ pendeta melakukan pelayanan sosial yang memikat hati masyarakat miskin yang diabaikan oleh masjid dan umat Islam yang kaya sehingga mereka masuk Kristen, sangat tidak bijak jika dilawan dengan cara-cara kriminal atas nama gerakan anti-Kristenisasi. Mengapa tidak menjadi introspeksi bagi umat Islam untuk meniru cara-cara mereka dalam pelayanan sosial dan diiringi dengan penguatan hati lewat gerakan tasawuf agar umat Islam tidak cinta dunia dan takut mati. Jika umat Islam menempuh cara-cara seperti ini, saya yakin umat Islam akan lebih disegani oleh umat lainnya karena akhlaknya, bukan ditakuti karena mayoritasnya.

Lagi pula, ketika awal hijrah, jumlah umat Islam di Madinah yang minoritas pada awalnya, justru dihormati oleh masyarakat Madinah lainnya yang jumlahnya mayoritas. Sampai akhirnya Madinah menjadi 1 dari 3 kota penting umat Islam. Maka tidak perlu kita risau dengan soal minoritas dan mayoritas, tapi risaulah jika jumlah kita yang banyak justru malah jadi pasar untuk pemasaran para kapitalis, obyek untuk diadu domba oleh berbagai macam kepentingan, dan pada puncaknya kita menjadi umat seperti yang diramalkan Nabi, jumlahnya besar tapi seperti buih di lautan.

Hidayah itu hak prerogatif Allah. Iman itu letaknya di hati. Maka akan lebih indah jika perkataan kita kepada orang lain yang secara lahir berbeda keyakinan dengan kita seperti yang diajarkan oleh Syaikh Imran Hosein. “Barangkali Anda memiliki keimanan di hati, dan itu menjadi rahasia Anda dan Allah. Sedangkan dalam Islam, keimanan itu ditunjukkan dengan pengamalan syariat agar kami bisa menunaikan hak-hak Anda selama hidup hingga wafat. Karena selama hidup Anda tidak menunjukkan pengamalan syariat itu, maka mohon maaf kami tidak dapat memberikan hak Anda sebagai muslim. Tapi kami berjanji untuk selalu bersikap baik pada Anda dan menjaga nama baik Anda.”

Ngawen, 19 November 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.