Di antara wacana yang belum berhasil dipatahkan umat Islam adalah REMAJA.

Dalam Islam, tidak ada istilah REMAJA, karena fase seorang yang belum baligh (dewasa) dinamakan anak-anak. Sebelum anak-anak mencapai fase baligh (yang putra ditandai mimpi basah yang putri ditandai menstruasi), orang tua bertugas menyiapkan bekal semuanya sehingga ketika si anak mamasuki fase baligh dia juga sudah aaqil (berakal) dan siap menjalankan syariat.

Sehingga begitu memasuki masa baligh, seorang anak itu idealnya sudah siap menjalankan syariat Islam seperti ibadah mahdhah, hidup mandiri, menghadapi lawan jenis dengan sikap dewasa, bergaul dengan masyarakat dan menghadapi tantangan hidup dengan berani. Saat itulah orang tua mulai melepas anak laki-lakinya berkelana mencari ilmu dari guru ke guru dan membiarkannya memutuskan kehidupannya.

Sayangnya ilmu pendidikan, ilmu psikologi, dan seabreg ilmu humaniora yang saat ini kita imani rame-rame masih menggunakan konsep itu. Konsep REMAJA memang sengaja diciptakan agar hiburan, fashion, dan yang begitu-begitu ada konsumennya. Sebenarnya tanpa mengkonstruksi konsep remaja, kalau kita menerapkan kehidupan sesuai fitrah, yang jualan ya tetap laku. Karena rezeki itu tak akan kemana asal dijemput dengan usaha yang benar dan jujur.

Tapi, kita memang umat yang sedang terjajah dengan berbagai filsafat berpikir sehingga tidak mampu membangun wacana baru, apalagi kebudayaan baru. Kita masih tunduk pada kebudayaan yang berakar pada materialisme dalam wujud kapitalisme yang mengusung jargon MODERN.

Juwiring, 10 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.