Membahas soal Ahok terus itu marai burem. Wis lah ben ndeke nanggung omongane sing pating pecothot kuwi.

Lebih baik belajar eskatologi Islam, ilmu ini ternyata mampu menghubungkan berbagai catatan sejarah yang selama ini sering dipertentangkan oleh golongan yang dikit-dikit dalil. Dengan ilmu eskatologi Islam ini, penafsiran al Quran bisa dikembalikan secara ideal yaitu ayat ditafsirkan oleh ayat lain, dan hadits sebagai data sejarah akurat bersama data-data sejarah lain (yang relatif tidak seakurat hadits) untuk mendukung penafsiran tersebut.

Salah satunya mengapa di akhir zaman bangsa Arab akan musnah dalam perang besar itu. Karena itu adalah saat Allah memenuhi janji yang diucapkan Ismail ketika beliau merelakan dirinya, setelah Ibrahim menjelaskan perintah Allah padanya. Bangsa Arab yang beriman akan menerima pahalanya, yang ingkar dan bersekutu dengan zionis akan menanggung kemurkaan-Nya.

Kemusnahan bangsa Arab bukan merupakan azab atau hukuman, tetapi adalah pelunasan janji yang telah diucapkan Nabi Ismail sebagai moyang bangsa Arab. Janji itu harus dilunasi agar kelak kemenangan Islam terwujud karena diperjuangkan oleh bangsa lain yang sebenarnya jelas ciri-cirinya, tapi oleh zionis informasi tentang bangsa ini dikaburkan bersamaan dengan perusakan logika secara global lewat akidah materialisme. Bukankah pengorbanan itu arti harfiahnya adalah untuk mendekatkan. Sejak kapan imajinasi umat Islam pada kata “korban” identik dengan penindasan fisik? Bukankah itu keyakinan saudara kita yang Kristen. Kembalilah ke pengertian kurban menurut al Quran.

Mulailah perbaiki metodologi belajar kita pada al Quran, agar kita tidak bernasib seperti Ahok. Al Quran itu aktual, ia menjelaskan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang akan terjadi dalam kehidupan kita secara akurat. Jadi jangan dimuseumkan al Quran sebagai kumpulan tulisan yang cuma diunekke tiap hari. Apalagi dijadikan adu jotos perkara-perkara yang sudah jelas kaidahnya. Ingat, yang kita baca hanyalah mushaf al Quran, bukan substansi al Quran itu sendiri. Upaya kita mendekat terus dengan mushaf agar kita sampai pada pemahaman apa itu kalamullah. Karena jika umat Islam benar-benar mengerti kalamullah tentunya tidak celaka dan tercerai berai seperti sekarang. Jadi mari kita temukan al Quran itu lewat interaksi dengan mushafnya, diskusi yang rendah hati, dan merefleksi pada ayat-ayat-Nya yang luas ini. Karena di situlah kita akan mendapati bagian-bagian dari al Quran yang hari ini telah terkubur oleh ilusi materialisme.

Juwiring, 1 November 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.