Sejak dunia diwarnai oleh kolonialisme, maka lahirlah berbagai kerusakan yang tidak terperikan karena materialisme melahirkan aneka paham yang aneh-aneh. Dimulai dari kapitalisme yang mesin pembangkit utamanya adalah riba melalui konsep uang kertas itu, perlahan lahir berbagai paham baru yang semakin hari semakin banyak hingga kini. Dan yang menyedihkan, umat Islam akhirnya tergiur untuk menerimanya sehingga secara tidak sadar meruntuhkan akidah dan menjadikan kita hanya seorang muslim dalam fisik saja, tapi tidak dalam pemikiran, apalagi secara hakikat.

Dan jika kita pernah mendengar sabda Nabi Muhammad ketika umat Islam yang banyak tidak berarti apa-apa karena terjajah penyakit al Wahn, yakni cinta dunia dan takut mati, menurut saya di era kolonialisme inilah penyakit itu mulai mewabah. Bukankah penguasaan kaum kolonial di berbagai penjuru dunia terjadi karena adanya sebagian dari masyarakat Islam yang berkhianat karena cinta dunia dan memilih aman dari kematian? Takluknya raja-raja di Nusantara salah satunya karena mereka memilih aman dari pada dihancurkan pasukan Eropa yang memiliki persenjataan lebih canggih. Mereka menandatangi perjanjian-perjanjian yang merugikan rakyat. Itulah mengapa perlawanan-perlawanan rakyat lebih banyak dipimpin para ulama, bukan oleh kaum bangsawan kerajaan.

Sementara di Eropa sendiri, manipulasi uang kertas kian tumbuh pesat dengan lahirnya banyak bank di berbagai negara. Menurut literasi tentang keluarga Rotschild, bank-bank tersebut saling berjejaring, seperti kaum Yahudi Madinah yang turut berkubu tapi memiliki jaringan kebersamaan secara ekonomi. Untuk mengendalikan negara-negara besar, sangat tidak efisien jika harus ditaklukkan satu-satu. Caranya cukup dilemahkan secara bersama-sama dengan diadu domba dan dijerat dengan hutang. Pelajarilah bagaimana negara-negara besar di Eropa yang awalnya memiliki kemandirian ekonomi akhirnya terjerat hutang bank dan sistem ekonomi mereka secara tidak langsung dikendalikan oleh jaringan perbankan dengan uang kertasnya. Sejak saat itu, masalah riba menjadi tidak sesederhana urusan orang per orang. Makanya adalah hal konyol jika membahas riba dan tidak riba hanya sebatas pada label bank konvensional dan bank syariah.

Pada puncaknya, negara-negara itu pun diadu domba dalam perang Dunia. Masing-masing bank di dalam negaranya membiayai perang tersebut dalam bentuk hutang. Padahal semua sama sama tahu, dalam perang itu tidak mungkin menang semua, pasti salah satu menang, satunya kalah, atau kedua-duanya sama-sama hancur. Apalagi dengan pembiayaan hutang, maka yang menang akan menanggung hutang meskipun bisa menebus melalui rampasan perang, sementara yang kalah harus membayar hutang dalam kondisi defisit. Dalam praktiknya meskipun medan perangnya di Eropa, ketika negara yang kalah punya jajahan di tempat lain, mereka akan menindas rakyat jajahannya untuk mendapatkan uang demi menebus hutang pada perbankan. Sejak saat itulah penguasa negara-negara Eropa bukan lagi raja-raja, tapi kekuatan jaringan perbankan. Dan lambat laun, ia menjalar ke dunia Islam seiring dikuasainya negeri-negeri muslim oleh kekuatan kolonial. Menurut Syaikh Imran, fase kehadiran Dajjal hingga era Kolonial di mana Inggris menjadi bintang utamanya adalah fase hari pertama kehadiran Dajjl yang dikiaskan lamanya serasa setahun.

Penguasaan ekonomi global benar-benar terjadi setelah Perang Dunia II. Dunia yang awalnya hanya terbagi dalam beberapa imperium kekuasaan, terpecah belah menjadi ratusan negara, yang semuanya menderita kerugian akibat perang atau terdampak oleh perang sehingga untuk pemulihan ekonomi mereka harus berhutang. Yang menarik adalah di saat bangsa Eropa berperang habis-habisan, Amerika baru turun menjelang akhir Perang Dunia II. Di negeri Paman Sam itu, pergolakan terus terjadi antara kaum nasionalis yang anti bank Yahudi dengan kaum kapitalis yang merupakan bagian jejaring dari perbankan Yahudi Eropa, sampai akhirnya para pemimpin nasionalis dikalahkan dan pihak kapitalislah yang menang.

Dalam situasi pasca perang yang memprihatinkan itulah Amerika Serikat turun bak pahlawan dengan menawarkan pinjaman untuk pembangunan negara masing-masing. Dengan demikian, secara tidak langsung, mayoritas negara di dunia secara ekonomi berada dalam kendali satu adikuasa. Selain itu ada proses lain yang juga berjalan yakni penguasaan pusat daya tarik semua umat lintas agama di dunia, Yerusalem. Belajar dari peristiwa perang salib, maka metode perang ditinggalkan. Diganti dengan penguasaan ekonomi, apalagi umat Islam lebih cinta harta dari pada berjihad. Mulai dibelilah tanah-tanah di Palestina oleh para penguasaha yang terafiliasi zionis. Lama-lama tanah yang dibeli itu dapat dijadikan beskem untuk menampung milisi zionis dan mereka mulai melakukan teror untuk mencaplok wilayah yang lebih luas dalam rangka persiapan mendirikan negara baru, Israel. Di bawah perlindungan Inggris, berdirilah negara Israel. Barangkali kebencian Bung Karno terhadap Inggris, selain karena sebagai dedengkotnya kolonialisme, juga karena Inggris-lah yang membidani lahirnya negara baru yang tentaranya dikenal paling brutal di seluruh dunia.

Tidak hanya sampai disitu, dibentuklah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan World Bank plus IMF. Sekilas nama PBB pasti menarik dan itu seperti semacam klausul baru untuk memastikan dunia tidak lagi perang. Tetapi jika kemudian dipelajari lebih lanjut, apalagi dilihat praktiknya hingga zaman kita saat ini, nyatalah bahwa itu adalah imperium global dengan Amerika Serikat sebagai rajanya. Meskipun sebenarnya juga bukan bangsa Amerika Serikat yang berkuasa, melainkan kekuatan ekonomi kapitalis yang ada di sebaliknya. Dan lagi-lagi Bung Karno mengetahui kelicikan ini, makanya beliau memutuskan agar Indonesia keluar dari PBB. Soal World Bank dan IMF jangan tanya, karena semua negara di dunia ini kalau tidak ingin diboikot, maka tunduklah pada IMF, artinya terapkan ekonomi kapitalis. Semakin kaffah semakin banyak bantuan utang yang mengucur. Semakin mandiri, semakin banyak diusik dan dituduh macam-macam, dan dikucilkan. Bukankah seperti itu?

(bersambung)

Juwiring, 7 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.