Peristiwa sejarah pencaplokan Palestina oleh Israel sebenarnya bukan hal baru yang tidak ada solusinya. Bukankah Amerika Serikat juga terbentuk dari peristiwa yang sama, yakni pengusiran dan pembasmian suku Indian oleh bangsa Eropa buangan. Australia juga demikian, negara itu terbentuk dari pengusiran dan pembasmian suku Aborigin oleh bangsa Inggris. Dan beberapa negara di dunia ini yang prosesnya pembentukannya begitu. Masalahnya, setelah kezaliman dan penindasan itu dilakukan, lalu dikukuhkan perjanjian internasional baru yang kelihatannya ingin memelihara perdamaian, tapi ternyata cuma peneguhan dominasi sekelompok negara (AS dan sekutunya) atas banyak negara lainnya.

Hanya Bung Karno dan beberapa gelintir pemimpin dunia kala itu yang menyadari kecurangan ini, makanya beliau keluar dari PBB dan berteriak lantang soal berdikari. Kini beliau telah bersemadi di pusara, bersama segala kelupaan bangsa yang dulu dibanggakannya. Bahkan putri dan cucunya malah mempertontonkan hal yang memalukan leluhurnya, yang saya yakin para leluhur Nusantara akan mengutuk tindakan mereka berdua beserta elit lain yang sejenis dengannya. Hari ini suara-suara kebenaran dan keadilan sejati diisolasi dalam kerangka berpikir Internasionalisme gaya baru yang belum lama dikukuhkan dengan nama Hak Asasi Mbahmu. Sebesar apa pun suaramu soal keadilan akan kalah jika HAM telah berkata tidak.

Itulah mengapa yang dibutuhkan saat ini kesadaran arus bawah untuk tidak lagi beriman pada ajaran HAM yang dideklarasikan secara curang itu, juga kesadaran bahwa negara kita tidak seharusnya seperti negara macam ini yang ekonominya tunduk pada bankir Yahudi. Kita perlu menyadari bahwa persatuan kita saat ini adalah kunci keluarnya kita dari kemelut untuk membebaskan negeri kita masing-masing yang dijajah oleh berhala kapitalisme dan kawan-kawannya. Bahasa teknisnya adalah saatnya Bangsa Indian, Aborigin, Palestina, dll menuntut tanah mereka. Juga ini saatnya bangsa Indonesia berjuang meneguhkan kedaulatannya yang sejati, tidak yang semu seperti saat ini. Tidak masalah hidup masing-masing anak bangsa saling berbaur, tapi sadarilah bahwa dalam hidup itu ada tuan rumah dan tamu. Jadilah tuan rumah yang ramah dan jadilah tamu yang sopan. Jangan jadi perampok yang datang tak diundang, tahu-tahu merampas hak orang lain.

Juwiring, 4 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.