Soal karomah wali yang dianggap kontroversial, sebaiknya diam saja, toh berdebat pun tak ada gunanya wong sama-sama tidak punya bukti pendukung maupun penyangkal. Mending putuskan percaya atau tidak dalam hati, lalu diam. Terus jalani aja laku kehidupan yang benar sesuai lazimnya syariat Islam yang disepakati para ulama (bukan cuma ulama versi anu lho ya), siapa tahu mendapatkan pengalaman spiritual. Dan di zaman konyol macam sekarang, tidak perlu diceritakan juga pengalaman spiritual kita, jika dihadapan orang materialistik.

Yang pasti, warisan peninggalan para wali dalam meng-Islam-kan kebudayaan Jawa dan Nusantara sampai akar-akarnya tidak dapat disangkal. Buktinya masih mengakar secara sosial hingga hari ini, bahkan metodenya diadopsi oleh para Pastur/Pendeta dalam misi mereka menyebarkan ajaran Kristen. Itu kerja peradaban yang sangat berat lho. Artinya para wali adalah sosok-sosok intelektual jenius pada zamannya yang bisa membumikan Islam dengan pendekatan sosial kebudayaan yang tidak terbayangkan rumitnya. Mereka juga para pelaku tasawuf yang memiliki kerendahan hati luar biasa sehingga memikat masyarakat.

Kiprah mereka kemudian diteruskan oleh generasi mereka dengan inovasi pesantren yang kemudian menjadi basis perlawanan terkuat kepada para kaum Kolonial yang menjajah negeri ini. Silih berganti para santri yang ke Mekah – Madinah menimba berbagai khazanah ilmu yang kemudian diajarkan di Nusantara. Banyak pula ulama besar dari Nusantara yang menjadi guru ulama sedunia di sana, sebelum akhirnya tanah Hijjaz direbut dinasti Saud dan Inggris dari Turki Utsmani sehingga menjadi tempat yang seperti sekarang. Di bawah kekuasaan Raja-Raja Saudi, maka semua khazanah yang dianggap tidak murni menurut versi pengasas gerakan mereka, dihancurkan.

Hari ini, warisan para wali terutama dalam wujud Islami-sasi kebudayaan tidak diteruskan. Padahal paling inti dalam merubah suatu bangsa itu ya Islam-kan kebudayaannya maka seluruh bangsa dengan sendirinya akan mengalami proses Islamisasi secara keseluruhan. Unsur terpenting dari kebudayaan adalah bahasa. Nah sekarang umat Islam di Indonesia saat ini tidak jelas arahnya, bahasa Indonesia yang sekarang sudah tidak se-Islam-i bahasa Melayu, bahasa Jawa pun ditinggalkan dan bahasa-bahasa daerah dimatikan karena generasi penuturnya semakin hilang.

Bahasa Arab dan bahasa asing yang diadopsi pun juga tidak berangkat dari sastranya, lebih karena semacam style saja. Artinya kita ketika pakai bahasa Arab bukan karena berangkat dari standar makna al Quran, tetapi ya karena trend berbahasa Arab yang dibawa dari Timur Tengah kontemporer. Bahasa asing lainnya apalagi, karena di daerah mereka tidak ada wali sanga, mana ada cerita Islamisasi bahasa Inggris, Mandarin, dll.

Kita sudah ditinggali warisan bahasa Melayu, Jawa, dan berbagai bahasa daerah yang telah di-Islam-kan para wali. Bahkan dulu kita masih mewarisi perkawinan huruf arab dengan khazanah budaya kita, sehingga mau kitab dalam bahasa Melayu dan Jawa, banyak ditulis dengan huruf Arab, meski ada juga yang tetap dengan huruf lokal. Ini adalah kerja intelektual tingkat tinggi, sekaligus upaya pembiasaan masyarakat agar selalu dekat dengan sumber-sumber ajaran agamanya. Sayang, sejak Belanda melakukan gerakan latinisasi tulisan lewat Politik Etiknya, bangsa ini berkiblat pada tulisan latin (seperti status saya juga).

Saya itu kadang berkhayal saya punya sahabat yang bisa diajak bersurat-suratan dengan tulisan dan bahasa Jawa atau dengan bahasa Melayu dengan huruf Arab jawi. Betapa kerennya, ditengah zaman yang serba cepat seperti sekarang, kita masih punya klangenan. Ketika kita bisa membangun momen-momen indah semacam itu, betapa bahagianya generasi kita. Kita memang tidak bisa mengelak dari penjajahan global yang ganas ini. Tetapi asal kita tidak kehilangan pijakan warisan leluhur kita, maka semua akan baik-baik saja.

Ini zaman di mana agama menjadi bahan tertawaan. Islam diperlakukan dengan sangat tidak sopan oleh kebanyakan manusia, termasuk umat yang mengaku Islam. Dalam sejarah peradaban Islam, belum pernah Islam diperkosa dan disubordinasikan secara pemikiran, kebudayaan, hingga syariat seperti sekarang. Zaman dahulu, orang masih memiliki penghormatan terhadap Islam. Sekarang, bahkan tidak malu-malu menjadikan Islam sebagai katalis industri kapitalisme global.

Juwiring, 4 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.