Pencerahan hari ini, tata ruang dan kreativitas kebudayaan itu memegang peranan vital dalam dakwah. Karena itu adalah lapis terluar yang dilihat manusia. Itulah mengapa dari masa ke masa para ulama dahulu selalu memperhatikan ini bagaimana mereka mendesain tata ruang dan interaksi antar manusia sedemikian agar terbangun semangat berdiskusi ilmu dan ingat kepada Allah. Masjid adalah pusat ruang publik umat, sehingga umat selalu ingat masjid setiap apa pun, karena di masjid dan kompleksnya tersedia apa yang mereka cari mulai dari layanan pendidikan, sosial, kesehatan, seni, dll.

Pedihnya, sekarang masjid menjadi tempat rebutan kekuasaan para kelompok Islam. Hal itu sebenarnya tidak aneh, karena dalam ruang yang bernama keluarga, ayah ibu dan anak pun sekarang juga kacau interaksinya karena masing-masing fokus pada gadgetnya. Nah umat Islam yang sekarang terpecah-pecah itu kan sebenarnya juga semacam itu, kurang interaktif, kurang mencair, dan sibuk dengan “gadget”nya sendiri-sendiri. Apa yang tengah terjadi di tengah keluarga kaum muslimin dan masyarakat pada umumnya menjadi cermin kebudayaan masyarakatnya.

Sekarang kalau melihat kota, mulai dari jalan, bangunan dan tempat-tempat strategis yang terlihat adalah nuansa kapitalisme yang sangat. Kalau tidak kapitalisme, ya berarti nuansa yang mengingatkan pada agama lain, padahal kota itu sebenarnya memiliki sejarah yang penting bagi umat Islam. Kekalahan arsitektural dan tata kota yang dialami umat Islam ini tak kunjung menimbulkan kesadaran di sanubari umat, karena saat ini umat Islam lebih sibuk rebutan balung kekuasaan dan ngisi wetenge dhewe-dhewe sembari njejaki kanan kirinya. Perilaku kapitalistik semacam ini yang menurunkan marwah Islam di mata umat non Islam (kalau Islam sendiri tetaplah mulia) dan mengurangi simpatik umat non Islam kepada umat Islam, sehingga penghormatan umat non Islam kepada umat Islam pun menurun, tidak seperti zaman dulu ketika di suatu daerah ada tokoh-tokoh dari umat Islam yang mampu menjadi pemangku masyarakat.

Diskusi tadi membuat saya semakin percaya bahwa pilar dakwah ada di perbaikan pendidikan secara mendasar (keluarga dan kebudayaan masyarakat) dan pengembalian fungsi masjid sebagai pusat berkumpulnya umat, ruang publik yang membuat siapa pun nyaman dan bisa mengingat Allah. Jika itu bisa kita perjuangkan sungguh-sungguh, insya Allah yang lain-lain akan membaik dengah izin-Nya. Tapi ini nggak mudah lho. Langkah pertama sangat berat kok, baik yang berkeluarga maupun yang belum, sanggupkah memiliki pemikiran yang tak lazim di tengah masyarakat tapi tetap berusaha mencair dan berbaur dengan mereka? Tapi itulah yang ditempuh Nabi Muhammad dan para ulama pewarisnya. Nah kalau ngaku jadi pewarisnya, sanggupkah kita memikul hal itu?

Terima kasih kepada mas Andika Saputra, dosen & arsitek seniornya pak kepsek SABS dan Pak Arif Wibowo, peneliti bidang kebudayaan Islam yang “menyamar” sebagai pengusaha bidang pertanian.

Juwiring, 10 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.