Kajian-kajian seputar hadirnya Imam Mahdi yang mainstream rasa-rasanya gimana gitu. Kayaknya imajinasinya orang-orang selalu berkutat pada hadirnya sosok yang ajaib, punya kekuatan ajaib, bisa menegakkan kekuasaan secara ajaib, lalu menggerakkan pasukan dengan cara ajaib, dan menangnya pun nanti ajaib.

Sebentar jangan marah dulu dan menyangka saya anti kekuatan supranatural. Saya percaya pada mu’jizat juga, yang ajaib-ajaib pernah, sedang, dan memang akan terus terjadi. Tapi kalau bicara soal Imam Mahdi, mbok mari bicara sejarah Nabi Muhammad SAW. Karena Imam Mahdi adalah pemimpin umat yang berkualifikasi Nabi, meskipun bukan Nabi. Bolehlah kita umpamakan Imam Mahdi adalah Nabi kw 1.

Nabi Muhammad SAW pada masa hidupnya sebelum dilantik jadi Nabi dan Rasul itu adalah orang biasa dari keturunan bangsawan (priyayi) yang hidup secara baik-baik. Reputasinya sebagai orang baik itu cukup mentereng. Tapi dia bukan orang yang punya infrastruktur kekuasaan di wilayahnya karena leluhurnya kebagian jatah menjaga pintu Ka’bah. Beliau manusia biasa yang dikenal baik secara personal dan sosial.

Ketika beliau mendapat wahyu dan resmi dilantik oleh Allah menjadi Nabi dan Rasul apa lantas beliau menjadi ajaib? Beliau tetap manusia biasa yang hadir di tengah umat, kali ini dengan sebuah bekal yang nyeleneh bagi kaumnya, yakni al Quran. Sebagai orang Arab, beliau mengungkapkan kalimat-kalimat yang tidak lazim di tengah kaumnya. Jika pakai sudut pandang keumuman, berarti beliau adalah orang yang nyeleneh pendapatnya karena memberi wawasan pemikiran baru tentang Allah (padahal sebelumnya bangsa Arab juga sudah mengenal Allah menurut cara mereka), tentang keadilan, dan berbagai hal lainnya. Nabi mengungkap hal yang lazim di masyarakat tapi dengan pengertian baru sebagaimana wahyu yang diturunkan padanya.

Apakah umatnya langsung percaya? Tidak. Padahal reputasinya beliau sebagai personal dan kiprahnya di lingkungan sosial itu top markotop. Jaman itu belum ada medsos maupun WA, jadi pencemaran nama baik tidak bisa secepat sekarang. Tapi nyatanya Nabi tidak dipercaya. Bahkan mereka membantah, kalau benar utusan Allah kok masih makan kurma dan jalan di tengah-tengah kaumnya. Kok tidak mampu berjalan di atas air, dan segala tuntutan lainnya bahwa utusan Allah adalah makhluk yang ajaib. Yang mau menerima dakwah Nabi dari kalangan orang merdeka adalah mereka yang pikirannya waras dan mau menggunakan akalnya. Selebihnya, pengikut Nabi adalah orang-orang tertindas yang memang rindu datangnya ajaran pembebasan dan penegakan keadilan untuk seluruh manusia.

Nah, simulasikan di zaman ini. Kira-kira Anda untuk memercayai perkataan seseorang, landasannya apa? Gelar? Jabatan? Pakaiannya yang pakai jubah? Jenggot panjang? Yang dikit-dikit ngeluarin dalil? Yang dikit-dikit kata-katanya pakai bahasa Arab? Seandainya Imam Mahdi telah hadir di tengah-tengah kita, dapatkah Anda mengenalnya? Bagaimana Anda mengenalinya?

Atau Anda menanti datangnya Captain America, Thor, Spiderman, Iron Man (si fathy bilangnya Eeome) dkk. Hahaha, mungkin para pahlawan itu adalah Imam Mahdi modern. Tapi Imam Mahdi-mu kaleee, bukan Imam Mahdi-ku.

Juwiring, 12 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.