Para ulama sejati dari dulu tetap akan sama. Tidak akan pernah berada di bawah negara atau kekuasaan mana pun. Bahwa mereka mematuhi hukum yang berlaku pada negara yang ditempatinya, semata-mata karena ada kemaslahatan yang dihasilkannya.

Imam Abu Hanifah tidak pernah bersedia mengakui satu raja pun dari bani Umayah dan Abasiyah hingga wafatnya. Demikian pula para ulama dan sufi agung lainnya, mereka tidak pernah menempatkan para raja sebagai atasan mereka. Para raja lah yang kebanyakan mengemis restu mereka. Terkadang dengan kesombongannya ada raja yang menghabisi nyawa para ulama mulia itu. Bahwa para ulama itu pada suatu masa mengakui kekuasaan seorang raja, semata-mata karena mereka melihat ada kebaikan dari raja itu.

Hari ini pun sama. Ulama adalah mereka yang sejak awal meletakkan dirinya tidak sebagai bagian dari kekuasaan mana pun. Mereka yang memilih untuk tegak berdiri di antara kekuasaan para raja. Mereka bertahta karena ketinggian ilmunya. Walau mungkin hanya diikuti segelintir orang saja.

Sejak wafatnya empat khalifah agung, sulit dijumpai kemuliaan ilmu dan kekuatan sekaligus yang berkumpul pada diri satu orang. Maka kepemimpinan dipegang oleh para ulama. Akal sehat umat Islam lah yang menempatkan mereka sebagai pemimpin tertinggi umat. Kesadaran dan kerendahatian para penguasalah yang membuat ilmu yang dibawa para ulama sebagai pewaris Nabi menyebar menyinari dunia Islam. Penguasa hanya punya kekuatan, tapi tak selalu memiliki ilmu. Di tangan para ulama zuhud inilah cahaya Islam disebarkan ke seantero dunia.

Hari ini umat Islam sedang mengalami goncangan serius akibat berbagai kekacauan pemikiran yang mendominasi dunia. Lahirnya isme-isme baru dan berbagai distorsi makna bahasa yang dihembuskan, membuat akal sehat umat mengalami masalah. Mereka tidak bisa mengenali maqam ulama, selain hanya melihat ciri-ciri fisik yang ternyata bisa dimanipulasi indah oleh industri pencitraan global. Mereka tidak bisa membedakan lagi kepemimpinan dengan kekuasaan sehingga banyak yang berpikir bahwa kekuasaan itu identik dengan kepemimpinan. Padahal sudah banyak contohnya bahwa kekuasaan tidak akan bermanfaat, bahkan menghancurkan peradaban ketika tidak tunduk pada ilmu.

Kini, kekuasaan pun tidak lebih sebagai instrumen penghambaan manusia kepada materi. Setiap klan dan dinasti di dunia mengembangkan kekuatan, baik militer maupun ekonomi untuk melakukan akumulasi materi. Semua melakukan hal yang sama sehingga diperkirakan nanti salah satu dari mereka akan keluar menjadi penguasa tunggal setelah berhasil menaklukkan lainnya. Dengan hierarki kekuasaan itu, maka perbudakan akan kembali mewujud, setelah dimulai sejak beberapa abad silam di mana hingga tahun 2017 ini banyak manusia yang tidak sadar akan kembalinya ruh perbudakan itu.

Apakah ulama sejati sudah habis? Tidak. Sebenarnya mereka masih ada, jumlahnya masih banyak. Hanya saja, siapa yang bisa mengenali mereka. Siapa yang bersedia menerima ilmu yang mereka warisi dari pendahulunya, karena isinya akan sangat terasa berseberangan dari realitas yang sedang berjalan besar-besaran hari ini. Itulah mengapa Rasulullah berpesan agar melipatgandakan kesabaran di akhir zaman. Sebab perubahan besar di akhir zaman adalah kehendak langit. Butuh tanda-tanda besar yang meyakinkan generasi akhir zaman ini untuk bergerak. Mereka tidak akan gegabah. Selagi tanda besar belum hadir, maka mereka akan fokus dengan perubahan-perubahan mendasar di setiap negeri yang mereka tempati.

Ini zaman serba instan. Butuh cepat dan tersedia. Di situlah kita benar-benar akan mengerti akan arti kesabaran para ulama pendahulu. Realitas zaman akan selalu berubah. Tapi para ulama akan selalu berada pada konsep nilai yang sama. Mereka akan selalu tenang dan berada di atas semua realitas itu dari zaman ke zaman.

Juwiring, 1 November 2017

Tinggalkan Balasan