Dari semua Nabi, Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun, setelah beliau menjalani perjalanan sebagai manusia paripurna.

Cara Allah mengangkat beliau menjadi Nabi menjadi hikmah bagi manusia bahwa menapaki derajat yang agung itu bisa ditempuh dengan berproses menjadi manusia menuju paripurna.

Di kemudian hari, hikmah itu terbukti ketika kemudian kita menyaksikan banyak orang yang kelihatannya sangat pandai menguasai pengetahuan agama tetapi justru menimbulkan banyak kerusakan, terutama berkaitan dengan ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Mengapa bisa seperti itu? Sebab kita menjalani proses hidup karbitan, yang penting cerdas dulu, nggak perlu jadi manusia. Akibatnya ajaran-ajaran agama disalahgunakan oleh manusia-manusia yang tidak sungguh-sungguh berproses menjadi manusia.

Nabi Muhammad hadir sebagai manusia biasa, tapi ia ibarat sebutir permata di antara batu-batu kerikil. Beliau hadir sebagai manusia yang tindakannya rasional agar bisa ditiru tindakannya oleh seluruh manusia setelahnya. Bukan cuma diklaim dan dipuja-puja seperti seorang dewa.

Entah tanggal 12 Rabiul Awal ini benar-benar hari ketika engkau dilahirkan, saya tidak peduli. Yang jelas, saya sangat gembira dengan keputusan Allah menghadirkanmu di dunia. Meski jasadmu telah tiada, hakikatnya engkau tetap hidup dalam jiwa-jiwa kami yang merinduimu. Shallu alaika ya Rasulallah, ya Habiballah.

Surakarta, 20 November 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.