Ada pola belah bambu yang dilupakan umat Islam hari ini. Sejak Nabi Isa diangkat ke langit, terjadi peristiwa berulang-ulang hingga hari ini yang manusia sering tak kuasa menahannya, lalu jatuh pada pangkuan kekuasaan”nya”.

Permusuhan kaum penyembah berhala dengan pengikut nabi Isa tidak berkesudahan, sampai akhirnya kita mendengar kisah ashabul Kahfi, para pejuang tauhid yang ditidurkan selama 309 tahun. Upaya Kaisar Konstantin mendamaikan ajaran paganisme dan ajaran nabi Isa melahirkan konstruksi agama baru dan perpecahan yang dikenal dengan Kristen Barat dan Timur. Pada kelanjutannya, kedua ajaran itu pun dipecah belah lagi oleh berbagai kepentingan. Kristen Timur terbelah lagi antara yang tetap monoteistik atau yang mengikuti trinitas. Beberapa abad kemudian, Kristen Barat pun terbelah juga menjadi Katolik dan Protestan dengan berbagai sektenya.

Ketika Islam diturunkan di jazirah Arab pada permulaannya masih dapat bersatu. Wejangan tentang persatuan begitu ditekankan, baik di dalam al Quran maupun dalam pidato Rasulullah di depan publik, terutama saat haji wada’. Namun virus perpecahan yang terjadi di era pra Islam akhirnya menular juga. Sejak Abu Bakar dibaiat jadi khalifah, terjadi pemurtadan massal di luar Mekah dan Madinah. Kemudian di masa Utsman mulai terjadi demonstrasi dan kerusuhan yang memuncak saat Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Perseteruan antara Ali dan Muawiyah kian dipanas-panasi dengan isu kepemimpinan yang melahirkan golongan yang terlalu condong pada Ali bin Abi Thalib. Hal itu diperparah dengan pembantaian Husein oleh Yazid. Sejak itu umat Islam terbelah menjadi kelompok Sunni (mayoritas) dan Syiah (minoritas). Masing-masing kelompok terbelah lagi menjadi banyak golongan dari yang paling moderat sampai yang ekstrim. Terus membelah, sebagian melembaga menjadi institusi keagamaan baik berupa ormas, jamaah, tariqah, dll hingga hari ini.

Pola yang sama akhirnya diulang-ulang di berbagai bidang dengan metode yang sama, yakni sebar berita dusta, lakukan adu domba, persenjatai pihak-pihak yang bertikai, dan biarkan kelompok yang “dilemahkan” hancur dilumat oleh pihak yang “dikuatkan”. Perang Salib sebenarnya juga berawal dari adu domba antara umat Kristen Barat dan umat Islam oleh segolongan orang yang terobsesi dengan Tabut Musa. Kelompok ini tidak rela melihat kerukunan umat tiga agama di Yerusalem, maka mereka melakukan penyusupan dan perusakan pemikiran di dunia Kristen Barat sampai akhirnya saling berperang. Tak hanya berperang terhadap umat Islam, orang Kristen Barat pun berperang satu sama lain hingga akhirnya mereka terpecah-pecah menjadi beberapa kekaisaran besar di Eropa dengan sekte ke-Kristen-an mereka sendiri-sendiri.

Di bidang ilmu, umat Islam yang mengalami kejumudan ijtihad setelah keruntuhan Baghdad dan Andalusia dikenalkan dengan dikotomi ilmu dunia dan ilmu agama. Umat Islam di berbagai belahan dunia tidak siap menghadapi gempuran pemikiran semacam ini. Sehingga ketika suatu saat (setelah melalui proses penguasaan Skotlandia, Inggris, kemudian Eropa melalui Vatikan oleh penerus golongan pencari Tabut Musa tadi) Eropa bangkit menjadi sebuah kekuatan besar yang menguasai dunia dan melibas negeri-negeri muslim. Seolah perang Salib kedua dikobarkan kembali, padahal yang terjadi adalah umat Kristen Barat kembali diadu dengan umat Islam atas doktrin Renaisans. Dikotomi ilmu tadi membentuk sekulerisme di kemudian hari, lalu dikukuhkan dengan kapitalisme dan industrialisme yang merupakan perkawinan paling berbahaya antara ilmu yang dikekang dalam pragmatisme teknologi terapan dengan kepemilikan modal.

Setelah perusakan akidah berjalan sukses dengan berlangsungnya pecah belah di tengah umat beragama secara terus menerus akibat kepentingan yang menghinggapi dada-dada pemimpinnya yang terkena efek kapitalisme, maka disusunlah konsep baru kepemimpinan yang benar-benar menghancurkan konsep kepemimpinan tauhid, yakni demokrasi. Mengapa menghancurkan? Demokrasi yang dikenalkan dalam kepemimpinan modern sebenarnya bukanlah demokrasi yang sejati, karena meniadakan peran Tuhan sebagai hakim dalam kepemimpinan dan tidak melihat faktor-faktor kemampuan manusia secara utuh, sehingga suara seorang alim setara dengan suara seorang durjana. Demokrasi modern juga tidak mempertimbangkan alam sebagai bagian dari pengambilan keputusan bersama. Tapi karena kerusakan pola pikir dan kerakusan pada dunia telah berjalan, gagasan yang sebenarnya sangat absurd itu pun diterima oleh kebanyakan manusia. Apalagi dipaksakan secara bertahap melalui Perang Dunia I (untuk menghancurkan kerajaan-kerajaan besar dunia), Perang Dunia II (untuk membelah dunia menjadi banyak negara dan menyandera mereka dengan hutang), Perang Dingin (untuk menghisap kekayaan negara-negara yang telah dilemahkan).

Kini, memasuki era digital dan media sosial, ibaratnya kita tinggal menikmati sisa-sisa hiburan perusakan umat. Umat Islam yang sedang larut dalam euforia kebebasan berpikir dan beragama tengah merayakan perbedaan pendapat dengan sangat riuh. Kalau sekiranya perbedaan pendapat dirayakan dengan adab yang baik tentu akan membuat umat Islam kuat dan bersatu lagi. Kenyataannya, perbedaan yang terjadi di tengah umat Islam lebih didominasi emosi dan pertentangan yang dikekalkan. Setiap diupayakan persatuan, pecah lagi karena kepentingan-kepentingan sepihak kalangan umat Islam (yang biasanya menyangkut bisnis dan kekuasaan). Dengan medsos dan serbuan informasi tanpa henti, lalu umat dalam kondisi rusak cara berpikirnya akibat warisan turun temurun sejak era kolonialisme, maka umat Islam dan umat Kristen sama-sama menghadapi tantangan agar tidak kembali lagi bertarung dengan sia-sia. Propaganda pasti akan terus dihembuskan, berita dusta akan dihembuskan. Dan bersamaan dengan itu, kekayaan negeri-negeri muslim akan terus dihisap sampai habis.

Hari ini, AS, negara-negara Eropa kita ketahui sebagai negara maju. Tapi menariknya negara-negara yang disebut sebagai negara maju itu ternyata hutangnya sangat besar. Jika negara yang sebesar itu saja berhutang dengan jumlah yang sangat besar, berarti ada suatu badan yang lebih kaya dari negara kan? Siapa mereka? Siapa mereka? Hahaha. Belum kita selesai dengan urusan semacam ini, kita disuguhi berita untuk mengadu domba kubu Recep Tayyip Erdogan dan Fetullah Gulen. Lalu seperti biasa, umat Islam, khususnya di Indonesia riuh rendah menjadi pendukung setia salah satunya. Akhirnya ….. yah begitulah.

Juwiring, 24 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.