Salah satu versi Babad Tanah Jawi memberiku banyak pelajaran berharga agar aku tidak mengkhianati janji prasetya dan kebenaran. Setiap hal mesti ditimbang dengan ukuran kebaikan yang lebih luas dan lebih besar, bukan sekedar keinginan pribadi untuk berkuasa hanya gara-gara “wahyu tumurun”.

Dan kitab itu menjadi pengingat generasi muda Jawa bahwa penguasa leluhurnya dahulu pernah saling berbunuh-bunuhan tanpa ampun selama berpuluh-puluh tahun tanpa henti. Menghancurkan ketenteraman pulau Jawa, mengundang datangnya Kompeni, dan menyuburkan segala bentuk pengkhianatan hingga hari ini.

Dan pengkhianatan paling keji adalah pengkhianatan kepada ajaran-ajaran luhur para waliyullah, dzurriyah Kanjeng Nabi Muhammad SAW di tanah Jawa. Mereka dahulu dibantai oleh para penguasa zalim yang mabuk kuasa. Kini, jasa mereka dilupakan bahkan sering dicela anak-anak muda yang baru kemarin sore belajar agama. Semoga Allah mengampuni kita yang pernah lancang terhadap leluhur kita yang mulia.

Para wali mengajarkan budi pekerti yang luhur sehingga Islam merasuk secara halus ke sanubari Nusantara. Mereka mewariskan kebudayaan adiluhung yang kemudian mandeg ketika Jawa lebih banyak dipenuhi peperangan dan perebutan kekuasaan dari pada madeg kepanditaan. Kehancuran itu ditambah dengan kehadiran Kompeni yang awalnya berdagang lalu kurang ajar mengobrak-abrik martabat masyarakat Jawa.

Kini kita dihadapkan pada pilihan sulit, merangkai kembali mozaik yang sudah berhamburan itu atau kehilangan pijakan karena ditindas aneka “produk impor” yang membanjiri negeri ini. Jika gagal merangkai mozaik itu, kita terancam kembali untuk berbunuh-bunuhan dengan gaya baru yang lebih sadis, karena tidak menggunakan cara-cara fisik lagi.

Juwiring, 28 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.