Kenapa ikon yang dibangun di makam para Waliyullah (khususnya di tanah Jawa) bukan pesantren, justru bangunan yang menimbulkan imej mistik? Sehingga kebanyakan pengunjungnya bukan orang yang ingin menelusuri sejarah para leluhurnya yang mulia ini, tetapi lebih untuk mencari prestis bahwa mereka pernah mengunjungi makam leluhur.

Karena jika hakikatnya bertawasul (meskipun ini juga kadang masih diperdebatkan dengan sengit), kan tidak harus berziarah juga, di rumah atau di masjid pun saat berdoa juga bisa dilakukan dengan menyebut nama-nama mereka. Dan yang berziarah terkadang justru terjebak pada berbagai tradisi penyembahan kuburan seperti ngalap berkah dan sebagainya.

Sementara di sisi yang lain, umat Islam kalangan modernis kelewat nyinyir ketika melihat fenomena ini. Ada lagi yang latah dengan usulannya untuk menghancurkan makam-makam tersebut (mungkin terinspirasi dengan tindakan penghancuran situs-situs Islam di Mekah dan Madinah kali ya). Tentu tindakan semacam ini bukannya memberi solusi, tetapi makin membuat jarak antara umat Islam golongan tradisionalis dengan modernis.

Tak bisakah imej makam-makam tersebut, yang biasanya dikelola oleh umat Islam tradisionalis, untuk dirombak dengan ikon yang baru berupa pendirian pesantren-pesantren yang menggunakan nama para wali tersebut. Makamnya diawasi langsung oleh otoritas pesantren tersebut sehingga para peziarahnya diedukasi agar tidak salah niat saat berkunjung ke makam para leluhur kita yang mulia itu. Tradisi peninggalan mereka baik karya ilmu fikih, tasawuf dan inovasi kebudayaan didokumentasikan oleh pesantren dan dikembangkan lebih lanjut agar publik mengetahuinya.

Terlebih lagi jika pengelola makam-makam tersebut adalah keturunan langsung para wali yang hari ini masih ada, tentu akan lebih menarik lagi. Karena bangsa Indonesia saat ini sedang yatim piatu sejarah. Jangankan sejarah bangsanya, wong sejarah keluarganya sendiri, kampungnya, desanya, hingga kabupatennya saja blank, apalagi sejarah besar tentang para ulama yang membawa Islam dan menggerakkan masyarakat untuk melawan imperialisme dan kolonialisme Barat.

Tulisan ini bukan protes atau semacam kekesalan. Hanya sebuah lintasan pikiran yang tiba-tiba ingat di beberapa makam wali yang pernah saya kunjungi ternyata lebih banyak yang kesannya mistik dari pada nuansa keilmuannya. Bahkan kadang digunakan oleh oknum tertentu untuk memuluskan aneka kepentingan ekonomi mereka. Karomah-karomah para wali tentu harus kita hormati, toh mau diperdebatkan juga tidak bisa, mau disepakati benar 100% ataupun ditolak 100% dengan alasan tidak masuk akal juga tidak bisa dong.

Alangkah indahnya jika makam para ulama leluhur kita dilingkupi oleh pesantren. Selain tetap menghidupkan ekonomi masyarakat sekitarnya, situs-situs tersebut akan lebih selamat, baik secara fisik (sehingga tidak hancur seperti situs-situs peninggalan keemasan Islam di Mekah dan Madinah, dan baru-baru ini di berbagai tempat yang dikuasai ISIS) maupun secara ruhani (dijadikan tempat untuk ngalap berkah dan mencari pesugihan).

Baik umat Islam modernis maupun tradisionalis, sudah saatnya jarak-jarak ukhuwah yang berlangsung berpuluh-puluh tahun ini dikikis, atau kita akan makin galau dengan aneka isu pecah belah gaya baru yang terus diproduksi tiada henti oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Juwiring, 23 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.