Mengikuti kajian tentang Pak AM Saefudin, yang menjadi peletak dasar Islamisasi Kampus membuka wawasan baru tentang bagaimana seharusnya melahirkan generasi intelektual Islam. Bukan sekedar Islami dalam arti formal seperti yang menjebak kalangan umat Islam sekarang, tapi Islami sejak filsafat berpikirnya sehingga dia tidak memiliki kepribadian yang terbelah, tetapi integral sebagai seorang aktivis sekaligus pemikir andal.

Terbelah itu adalah kondisi dimana ia saat di masjid kampus jadi aktivis LDK berapi-api ngomong soal dakwah, jihad, dan gitu-gitu deh, tapi di saat yang sama tidak mampu melontarkan kritik mendasar dari berbagai kesalahan filsafat dari ilmu-ilmu yang dipelajarinya di kampus. Padahal, apa coba ilmu-ilmu modern kita, baik sains maupun sosial yang filsafatnya nggak sekuler, bahkan kasarnya “sesat”. Nah, pribadi yang terbelah itu aneh, karena ibaratnya dia mengutuk Barat sekaligus menjadi pengikut Barat yang kaffah. Nah, masuk akalkah seorang mukmin memiliki ambivalensi semacam ini?

Maka, insya Allah akan sampai masanya, harakah-harakah yang awalnya dikekang oleh ideologi sempitnya, akan membuka diri dan melakukan deideologisasi. Lalu akan meningkat maqamnya menuju ke peradaban ilmu yang kelak akan menuju titik pertemuan menuju persatuan umat Islam. Yang enggan bergerak seperti ini, pasti akan tumbang dan lenyap ditelan sang waktu.

——————————————————————————-

Mengapa sekarang ketika kita menjelaskan kebenaran al Quran tentang berbagai hal di kehidupan dianggap tidak ilmiah oleh dunia akademik? Dan yang menolak bahkan dari kalangan umat Islam sendiri juga banyak. Karena otoritas ilmu-ilmu modern saat ini tidak di tangan umat Islam, tapi di tangan Barat yang filsafatnya bertolak belakang 180 derajat dengan kita.

Lalu apa solusinya? Ya kita harus rumuskan filsafat kita kembali dan mulai menuliskan ilmu-ilmu yang kita bangun dari filsafat tersebut secara sistematis, lalu dipertandingkan dengan Barat. Di kalangan ilmuwan mereka, masih banyak yang obyektif, sehingga jika perumusan kita baik dan tepat, mereka akan mengakui dan mengikuti kita. Dan secara bertahap otoritas ilmu akan bergeser dari Barat kembali ke pangkuan umat Islam.

Masalahnya, emang sekarang kita serius melakukan hal gituan? Bukane cuma tidur, rebutan kursi ketua organisasi, rebutan nguasai masjid, jualan buku, jualan sekolahan, dan yang gitu-gitu doang kan. Lalu apa yang mau dipertandingkan? Ababnya?


Ketika filsafat Barat menjajah pikiran kita dan mengubah kita menjadi generasi Islam neo-modernis, salah satu dampaknya adalah kita mensubordinasikan Islam sebagai obyek kajian dalam ilmu-ilmu modern.

Misalnya, seorang ahli di bidang mental dan kejiwaan meneliti kehidupan Nabi Muhammad sampai detil. Dia mengkhususkan pada proses-proses Nabi Muhammad menerima wahyu dan menyampaikannya ke umat. Karena dalam risetnya ia mendapatkan kesimpulan bahwa saat Nabi Muhammad menerima wahyu salah satu tanda-tandanya seperti orang kena ayan, maka dia berpendapat bahwa Nabi Muhammad mengidap penyakit ayan. Argumentasinya secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan karena dia telah melalui tahap-tahap penelitian yang panjang.

Dan silahkan disimulasikan sendiri dan dicari banyaknya penelitian semacam itu dilakukan oleh ilmuwan Barat yang materialis maupun umat Islam neo-modernis (yang sering kita sebut kaum liberal, sekuler, dan sejenisnya). Bagaimana kita melawan mereka? Demo? Nggrudug? Dibunuh? Kalau bisanya cuma kayak gitu, apa ndak malu sama Kanjeng Nabi? Itulah pentingnya umat Islam sadar bahwa bersatu, belajar, dan mengambil peran dalam melawan serangan dari berbagai penjuru itu sangat penting. Tidak cuma berdebat perkara fikih ibadah mahdlah yang kaidah-kaidahnya sudah dibakukan para ulama berabad-abad silam.

Ini bukan sekedar kerja untuk kepentingan umat Islam saja, tapi juga untuk seluruh umat manusia. Bukankah kecelakaan sejarah yang membuat ratusan juta mati dan keturunan manusia rusak karena kapitalisme, komunisme, ateisme, liberalisme, sekularisme, dan feminisme berkembang tanpa dicounter manusia yang waras pikirannya? Makanya tidak heran jika ada kalimat, jadilah manusia dulu agar bisa mengerti Islam dengan benar. Ya menjadi manusia sejati itu ga mudah.

Juwiring, 22 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.