Saya lebih sepakat dengan konsep arsitektur masjid yang dibangun Ridwan Kamil. Jamaah yang shalat dihadapkan pada nuansa hijau dan keindahan alam. Rasulullah sendiri membangun masjid dengan model yang sederhana tapi fungsional.

Selain itu, di era modern ini kelewat banyak pemberhalaan. Kubah masjid, dikiranya itu buatan orang Islam, itu kita ngadopsi dari arsitektur Gereja Kristen Ortodox. Menara, itu dulu tempat menyalakan api orang-orang Majusi, kita mengadopsi dari Persia. Permadani, coba tebak dari mana? Jika itu melenakan kita dan malah bikin ribut soal mana yang lebih Islami, buang saja. Buat masjid tanpa kubah, tanpa menara, dan buat permadani atau karpet polos, hitam atau hijau saja, nggak usah pakai gambar-gambar masjid mainstream gitu.

Kita disuruh shalat itu sebagai wujud syukur, sebagai momen istirahat sejenak, sebagai cara meminta tolong. Itu fokusnya, kok malah ribut wae soal urusan bangunan dan aksesori. Beginilah ketika keindahan justru menjadi berhala. Kita itu diciptakan dengan keindahan, kok malah ribut soal bangunan. Lha emangnya bangunan megah itu pasti indah? Bukankah kaum yang dimusnahkan adalah kebanyakan kaum yang suka bikin bangunan megah. Megah kok bangga, justru kudune siap-siap dilenyapkan untuk giliran berikutnya. Apalagi sekarang kata dasar PEMBANGUNAN adalah BANGUNAN, bukan lagi BANGUN.

Juwiring, 4 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.