Saat masih berapi-api, setiap jargon itu menarik lho (pengalaman pribadi). Semakin belajar, semakin mempelajari peta pemikiran, semakin mengerti bahwa konflik-konflik yang terjadi itu lebih banyak disebabkan oleh kedengkian dan kebencian, entah karena dendam yang menyejarah atau soal urusan ekonomi. Maka berhati-hatilah terlibat dalam konflik, hindari saja lebih baik. Apalagi diajak untuk membenci tanpa pengetahuan yang memadai. Kenapa harus ikut-ikutan yang kayak begitu.

Saya lalu membuka kisah tentang Perang Badr. Awalnya itu kisah tentang pengambilan hak atas perampasan harta Muhajirin yang ditinggal di Mekah, jadi awalnya adalah motif ekonomi. Mengetahui akan ada penghadangan, Abu Sofyan, sang juragan meminta bantuan Mekah. Sebelum bantuan datang, ternyata rombongan kafilah itu berhasil menyelamatkan diri dan memberi tahu bahwa pasukan tidak dibutuhkan lagi. Tapi para tentara Mekah melanjutkan langkah dengan kesombongannya. Mereka tetap ke Madinah untuk menghancurkan kehidupan umat Islam hingga akhirnya Allah hancurkan.

Yang saya tangkap dari peristiwa ini adalah Allah menskenariokan perang Badr sebagai bentuk perlawanan terhadap kesombongan melalui proses ujian komitmen umat. Orang-orang Mekah datang dengan kesombongannya ingin menghancurkan kaum muslimin. Sementara kaum muslimin diuji komitmennya apakah tetap setia kepada sang pemimpin (Rasulullah), karena jika hanya sebatas kepentingan ekonomi, kesempatan sudah lewat, ditambah dengan rasa lelah. Jadi kemenangan kaum muslimin hakikatnya bukan menang fisik di medan perangnya, tetapi keberhasilan mereka tetap solid dan setia di tengah kepedihan laparnya puasa bulan Ramadhan, kekecewaan karena gagal dapat rampasan, dan keterbatasan sarana perang yang ada. Mereka dimenangkan oleh Allah karena kemenangan mereka melawan diri mereka sendiri.

Kisah Perang Badr ini saya jadikan patokan untuk mengukur sejauh apa permusuhan yang kerap dipropagandakan saat ini. Begitu diselidiki di dalamnya lebih didominasi peta ekonomi, saya memilih pergi. Itu urusan mereka, gebukan-gebukan mereka, termasuk modar-modare mereka, ra urusan yen ra iso dikandani meneh. Perang Rasulullah adalah perang suci, yang tidak dilakukannya kecuali karena perintah-Nya. Beliau bisa tahu itu perintah-Nya ya karena kesucian diri beliau mampu menembus dimensi yang dikehendaki-Nya. Lha kita? Haiyah, ta’rif pada diri aja belon. Udah ngelunjak main gebuk dan gacar.

Juwiring, 22 Desember 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.