Sejak Islam bersemi di tengah bangsa Arab, peradaban yang awalnya terlalu dominan dengan “maskulin”nya perlahan menjadi lebih “feminim”. Dengan dimuliakannya posisi wanita sesuai dengan ajaran Islam, maka terjadilah revolusi yang cukup signifikan. Saya menjadi penasaran untuk menelisik lebih jauh peran para ibunda ulama dan ibu suri2 kerajaan ketika daulah Islam berkuasa sehingga bangsa yang tadinya brangasan akhirnya menjadi begitu lembut dan memuliakan wanita.

Ibunda-ibunda para ulama adalah bukti keberhasilan proses peradaban dari yang awalnya mengebiri wanita tak berharga menjadi mulia. Saya takzim kepada para ibunda ini. Jelas mereka perempuan cerdas dan penuh karomah, wong putranya bisa menjadi ulama-ulama besar yang karyanya monumental hingga sekarang. Sebut ibunda Imam Syafii yang dikenal menjaga dengan ketat asupan makanan sang buah hati. Sampai-sampai ketika imam Syafii pernah diberi makan oleh tetangga yang kurang dikenalnya, sesampai dirumah makanannya dikeluarkan demi menjaga agar sang putra tidak menelan makanan yang tidak jelas asalnya.

Berbeda dengan Arab dan timur tengah, bangsa-bangsa Nusantara cenderung sudah feminim sejak sebelum kedatangan Islam. Inilah modal dasar mengapa kedatangan Islam langsung disambut dengan damai melalui proses-proses kebudayaan, bukan dengan pedang. Tradisi yang bemuara dari sifat keibuan jelas terlihat, yakni budaya memangku. Rasulullah sendiri adalah manusia Arab spesial yang menerapkan cara-cara ini, terutama dalam dakwah secara langsung di masyarakat (mengasihi yg membencinya) dan seakan mengalah di perjanjian Hudaibiyah.

Sekarang era emansipasi hadir, ditunggangi filsafat materialisme. Kisah-kisah indah semacam ibunda para ulama, atau kalau di sini adalah nyai-nyai besar menjadi seperti isapan jempol. Kisah Nyai Ageng yang bisa mendidik cicitnya, Diponegoro hingga tampil menjadi mujahid seperti itu mungkin hari ini telah dilupakan. Semakin ke sini, apa itu maskulin apa itu feminim, tidak peduli lagi. Karena perang dengan karakter maskulin tak ada lagi, berdakwah dengan pendekatan feminim juga konon tidak menghasilkan umat banyak. Ya sama saja, karena parameter hari ini itu wujud materi dan jumlah. Jadi, tidak heran jika sikap santun itu menjadi mahal dan semakin langka.

NB : mohon tidak menerjemahkan maskulin dan feminim dalam tinjauan ilmu sosiologi atau sejenisnya. Kedua kata ini hanya sekedar penanda yg pembaca pasti bisa memahami konteksnya.

Surakarta, 19 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.