Gerakan Sunda Wiwitan, Kejawen, atau apalah yang nanti bicara menelusur asal muasal suatu daerah didesain untuk mematikan peran Islam dalam sejarah tanah Nusantara ini.

Yang lebih bisa dijadikan bukti bahwa Nusantara ini bersatu dalam jaringan perdagangan internasional antar puluhan/ratusan kerajaan di Nusantara adalah catatan pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang dikenal mewariskan banyak karya sastra, dari catatan sejarah otentik itu jelas-jelas kita berjejaring menjadi satu kesatuan sistem perdagangan internasional. Sedangkan di masa sebelumnya, bukti sejarah lebih banyak diperoleh dari kitab-kitab kuno dan penafsiran karya fisik (candi, prasasti, dll). Yang namanya tafsiran ya bisa benar, bisa salah.

Secara ekonomi, jaringan perdagangan antar kerajaan itu membentuk kawasan ekonomi seperti MEA yang sebentar lagi akan dilaunching. Sedangkan secara pendidikan, Malaka dan Jawa menjadi pusat dari pengembangan keilmuan, terutama dalam penyebaran agama Islam. Dunia pesantren menjadi basis penyatuan antar wilayah di Indonesia karena sistem nyantri di ponpes yang dibangun membuat putra-putra bangsa dari berbagai wilayah di Indonesia memiliki rasa kebersamaan sebagai saudara seiman.

Borobudur dan Prambanan memang bagus dan megah, menunjukkan kemampuan bangsa kita yang memang cerdas dan unggul. Tetapi proses pembangunannya tidak pernah kita ketahui apakah ia dibangun atas rasa syukur atau karena ambisi seorang raja yang memperbudak rakyat. Bukankah tembok besar China menjadi akhir masa dinasti Qin, karena menimbulkan penindasan besar pada bangsa Han sehingga mereka bersatu memberontak. Anggota DPR saja yang mau bikin gedung senilai 120-an M saja kita udah eneg dengernya. Jadi terkadang masa kejayaan itu sebenarnya saat ada bangunan megah atau saat ada sastra ya? Karena orang yang bersastra itu biasanya dalam kondisi jiwanya sehat dan damai.

Kita memasuki era perang opini. Umat Islam kalau masih cuma suka ribut soal fikih, salaman bar sholat dosa apa ora, sholat ngampleki HP dosa apa ora, dan enggan bekerja keras melanjutkan kerja intelektual kebudayaan para ulama yang dahulu telah meng-Islam-kan kebudayaan Nusantara sehingga dapat meng-Islam-kan masyarakat secara damai tanpa peperangan dahsyat seperti di Timur Tengah, mending ke laut saja. Geluta ndek laut kana wae.

Saya lebih meyakini bahwa jika kita hari ini kembali melanjutkan tradisi para ulama kita, kita akan lebih selamat dari pada kita jadi importir berat persis seperti negara kita sekarang. Saya yang Jawa, tetap melanjutkan tradisi Jawa-Islam yang sudah dibangun para walisanga. Mengkhalifahi kebudayaan, bahasa, dan cara hidup Jawa dari kerja keras para ulama tersebut sehingga menjadi Jawa yang mampu mempersembahkan hadiah bagi Belanda dengan adanya Perang Diponegoro, yang menyebabkan kebangkrutan sehingga membuat Belanda pecah menjadi dua negara Belanda dan Belgia.

Banyak sekali pahlawan-pahlawan yang lahir dari rahim pengajaran para ulama ini yang terbukti menjadi pemimpin perlawanan kolonialisme Eropa yang membawa misi materialisme ke seluruh penjuru dunia (yang konon ini bagian dari konspirasi Wahyudi, Brownis, dan Remason itu). Sebagai umat Islam, maka Trunojoyo bukan pemberontak, Diponegoro bukan pemberontak, justru merekalah pembela rakyat. Trunojoyo memperjuangkan keadilan rakyat atas dominasi Mataram-VOC, Diponegoro memperjuangkan keadilan rakyat atas dominasi Kasultanan Yogyakarta-Hindia Belanda. Kisahnya selalu berulang, kaum santri melawan tirani dari bangsa sendiri yang jadi boneka asing.

Hari ini, kondisi itu masih terjadi. Problemnya, apakah kuda-kuda kita seperti Trunojoyo dan Diponegoro. Jangan-jangan kita hanya proxy dari yang lain untuk saling dihantamkan. Apa enaknya jadi wayang yang cuma dijebles-jebleske dalang.

Mari ingat, Nusantara dulu satu wilayah kepulauan dengan kedaulatannya sendiri-sendiri. Kemudian kekuasaan lokal kita dibajak oleh para kolonialis. Yang dikuasai Belanda kemudian menjadi Indonesia, yang dikuasai Inggris kemudian menjadi Malaysia dan Brunei dan ada yang menjadi bagian dari Thailand, yang dikuasai Spanyol kemudian menjadi Filipina, yang dikuasai Portugis kini menjadi Timor Leste.

Bayangkan, ratusan bangsa ini bersatu dalam payung sebuah negara. Terutama Indonesia, yang paling banyak bangsanya, paling banyak kerajaan-kerajaannya, kini integral menjadi NKRI. Bayangkan, kalau dengan sejarah ini kita nggak kagum sama Allah, alangkah kualatnya kita.

Juwiring, 27 November 2015

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.