Tafsiran Cak Nun tentang evolusi risalah dari wahyu, diwujudkan dalam suhuf, hingga akhinya menjadi kitab sempurna seperti al Quran dan korelasinya dengan tingkat kecerdasan manusia dari masa ke masa cukup logis.

Zaman awal-awal manusia, mereka masih bisa menggunakan “software” dalam dirinya untuk membaca dan mengenali tanda-tanda kekuasaan Allah sehingga beriman. Maka para nabi yang diutus ketika itu risalahnya berupa peringatan, tidak disertai suhuf atau kitab.

Semakin ke sini, manusia semakin nganu, kebanyakan urusan dan ruwet dengan kehidupan mereka. Sehingga mereka semakin tidak mampu menggunakan “software” yang sudah Allah tanam dalam dirinya. Makanya Allah kirim utusan, plus buku panduannya agar manusia kembali memfungsikan softwarenya dengan baik. Sampai akhirnya Allah sempurnakan buku panduan itu yang dikenal dengan al-Quran karena tingkat peradaban manusia yang semakin mundur dan bodoh.

Hari ini kita menyaksikan sendiri bahwa kita semakin menjadi bodoh dengan teknologi yang direncanakan dibuat sebagai pembantu kita, eh justru kita sekarang jadi jongosnya. Bahkan kita sekarang menjadi umat yang diberi al-Quran tetapi sibuk memperdebatkan al-Quran, tidak menggali dan menjalani kehidupan yang Qurani. Parahnya al-Quran sekarang sering dijadikan legitimasi kepentingan pragmatis kita. Nauzubillah.

Juwiring, 27 November 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.