Sebelum Rasulullah diutus, bangsa Arab itu tidak mengenal konsep negara. Jangankan negara, konsep suku aja belum jelas. Wong mereka hobinya kawin dan punya banyak anak biar bisa membentuk kabilah sendiri. Makanya hidup mereka dilakukan dalam perang demi perang yang diselingi perjanjian.

Dalam konteks Arab, syariat Islam yang membatasi poligami maksimal 4 orang itu jelas sangat revolusioner karena zaman sebelumnya orang bisa mengawini wanita sesukanya, begitu pula jika Kanjeng Nabi selama di Madinah dalam 9 tahun hanya memimpin perang 20-an kali, dan mengirim pasukan 30-an kali itu juga revolusioner ketika sebelumnya perang adalah tabiat mereka.

Itulah mengapa penyebaran Islam pasca Rasulullah pasti dimulai dari para sahabat dengan cara yang damai. Pasukan baru dikirim khalifah jika otoritas wilayah terang-terangan menolak kehadiran para dai yang menyebarkan Islam secara damai dan melakukan berbagai intimidasi. Dan di lingkaran timur tengah, memang kalau urusan kekuasaan harus ada yang menang dan kalah, dan itu yang hari ini terus berlanjut.

Islam memang tidak terpisahkan dari perihal kekuasaan, karena dalam Islam, kekuasaan diatur oleh nilai-nilai al Quran. Tetapi mencampuradukkan perkara kekuasaan dengan kepentingan pragmatis tanpa melihat realitas masyarakatnya, jatuhnya kita akan membawa tatanan masyarakat Nusantara yang dahulu di-Islam-kan dengan metode kebudayaan tingkat tinggi oleh para ulama, menuju model kehidupan bangsa Arab yang dikit-dikit gelut dan mutlak-mutlakan seperti itu. Dari tatanan bangsa yang berdaulat atas kebudayaannya sendiri menjadi pengekor aneka kebudayaan asing yang dianggap lebih keren. Keren mbahmu!

Saya tidak ada urusan dengan Arab yang memang cara hidupnya perang seperti itu, toh itu budaya mereka. Tetapi jika kita yang di sini mulai tertarik untuk meniru gaya hidup mereka yang semacam itu, aku emoh tenan. Nggilani. Sebagai orang Jawa, kenangan perang saudara di Jawa yang cukup panjang pada masa pasca Demak hingga lahirnya Mataram sudah cukup pilu untuk diulang kembali.

Mosok saiki, mung beda madzhab wae nggawe mesjid anyar. Dan di tempat tinggal saya sekarang, 1 RW sudah ada 5 masjid berdiri. Menyusul 1 masjid akan berdiri lagi. Mbuh piye wong-wong mikire, padahal ketoke tampange sholeh-sholeh ngono, tapi kok sorot matane pating pencorong, apalagi melihat saya sebagai orang baru. Disumehi yo ana sing ijik horor. Ah mbuh lah, karepmu.

Juwiring, 27 November 2015

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.