HoegengMendengar kata polisi hari ini, mungkin sebagian orang sudah merasa jengkel mengingat tindakan oknum-oknumnya yang dikenal lebih “menyusahkan” ketimbang menjadi abdi masyarakat yang bertugas menjami keamanan dan menegakkan keadilan. Opini umum ini bukan tanpa alasan, mengingat sejarah panjang kepolisian negeri ini lebih banyak dipenuhi oleh kebobrokan, ketimbang cerita orang baiknya.

Maka dari itu, penting sekali bagi kita untuk menggali khazanah tersembunyi dari tubuh institusi kepolisian RI yang telah berkiprah selama berpuluh-puluh tahun selama ini. Salah satunya adalah mengenal sosok polisi yang memang dikenal kebal suap dan sangat tegas dalam menerapkan aturan hukum. Dialah Hoegeng Iman Santosa.

Gus Dur pernah berkelakar tentang Hoegeng bahwa hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Kelakar sang presiden terunik Indonesia itu tentu bukan tanpa alasan, mengingat kehadiran Hoegeng di dunia kepolisian bak permata yang ada di antara batu-batu kerikil. Inspirasinya akan terus harum bagi generasi bangsa yang merindukan kejujuran, khususnya adalah anggota kepolisian yang hari ini masih memiliki nurani.

Buku yang berjudul “Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan” adalah semacam biografi pendek yang ditulis seorang wartawan atas kesaksian salah satu orang yang pernah menjadi asisten pribadi beliau. Suhartono, sang penulis buku tersebut mencoba menghadirkan sosok Hoegeng dari berbagai sisi berdasarkan penelitian beliau dan wawancara terhadap Sudharto Martopoespito yang dikonfirmasikan langsung kepada keluarga Hoegeng.

Hoegeng diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga di mana mas Dharto, sebutan Hoegeng untuk narasumber yang diposisikan sebagai orang kesatu dalam rangkaian cerita di buku tersebut. Banyak inspirasi hidup tentang kesederhanaan dan kejujuran yang dapat kita petik dari buku yang tebalnya kurang dari 150 halaman.

Tak lupa, buku ini pun diberi pengantar oleh Ketua KPK RI Abraham Samad. Hal itu menunjukkan bahwa inspirasi Hoegeng dalam memerangi korupsi tetap abadi hingga hari ini dan akan terus menjadi salah satu rujukan anak bangsa yang jujur dalam menegakkan kebenaran di masa depan. Apakah para pembaca sudah melahapnya? Jika belum silahkan mencoba untuk membacanya!

Surakarta, 23 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.