Ini status yang sensitif. Tapi saya memilih nekat menulisnya untuk membangkitkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa-bangsa di Nusantara, karena saya begitu tersinggung jika cara hidup dan bermasyarakat kita mulai diarahkan mengikuti gaya bangsa Arab yang dulu pernah besar tapi sekarang pecah jadi banyak negara. Itu pun masih saduk-sadukan gelut ra uwis-uwis. Sebagian lagi sibuk pamer kekayaan dan kemewahan. Hingga tak luput dua tanah haram yang disucikan itu sekarang mulai dipinjam untuk bisnis metropolisme juga.

Saya mengagumi bangsa Arab di era awal Islam, tapi bukan bangsa Arab yang sekarang. No way. Konsep kerukunan apa yang mau ditiru dari bangsa yang dititipi bahasa al-Quran saja nggak mau bersatu kayak gitu, apa yang mau ditiru lagi jika mereka sendiri melanggar satu ayat yang jelas-jelas mereka lebih paham dari pada kebanyakan orang-orang sini. Ayat tentang persatuan, ayat yang menjadi garansi bahwa umat Islam akan sangat kuat ketika mereka bisa bersatu dan meninggalkan ego beragama mereka yang cenderung merasa paling benar sendiri tapi tidak mampu mengungkapkan kebenarannya dengan cara-cara yang santun seperti Nabi yang diutus di tengah-tengahnya.

Saya belajar tentang bangsa Arab itu dari sejarah Islam, karena di awal datangnya Islam mereka memiliki segala kemuliaan itu. Dan dengan kemuliaan itu, maka Allah mengangkat mereka menjadi pemimpin dunia. Mereka adalah bangsa pejuang, yang zuhud pada dunia, dan egaliter. Bentuk kebudayaan mereka yang egaliter dan lugas, mampu membuat ketakutan dua kekaisaran besar yang ada di Timur (Persia) dan Barat (Bizantium). Allah memberikan pertolongannya sehingga mereka sanggup menundukkan kedua penguasa yang hampir mustahil dapat dikalahkan dalam sejarah, apalagi hanya oleh segerombolan kaum Saracen yang sebelum datangnya Islam mereka selalu berpecah belah. Jangankan menjadi satu kumpulan bangsa, wong satu suku saja susahnya bukan main, karena antar kabilah suka berperang sendiri-sendiri. Kemuliaan mereka ada di situ, dan mungkin kini sebagian kecil dari bangsa Arab masih mewarisinya, yakni para ulama zuhud dan sebagian masyarakat yang masih berpegang pada nilai Islam.

Ketika bangsa Arab mulai gila dengan kekayaan, Allah cabut kekuasaan itu. Mereka runtuh. Allah tolong bangsa Persia yang kemudian menjadi pemimpin dunia. Di tangan bangsa Persia, peradaban Islam pesat dengan ilmu sains dan berbagai khazanah kebudayaannya. Maka mafhumlah kita bahwa ilmuwan-ilmuwan Islam yang meletakkan dasar renaisans Eropa adalah kebanyakan lahir di era Abassiyah. Sebagian lagi berada di tanah Andalusia (Spanyol) yang merupakan sisa-sisa bangsa Arab dari dinasti Umayyah. Pemimpin de jure memang tetap bangsa Arab, tetapi proses pembentukan peradaban ini telah dibangun oleh bangsa Persia. Maka mafhumlah kita, saat Persia telah menjadi Syiah seperti sekarang, mereka tetap survive karena mereka memang bangsa yang cerdas sebagaimana para pendahulu mereka yang Sunni.

Bangsa Persia pun terjangkit penyakit seperti bangsa Arab, harta dan dunia. Mereka runtuh. Itulah fase kekacuan umat Islam yang parah. Serangan dari Barat datang, gelombang demi gelombang pasukan Salib. Serangan dari Timur datang, gelombang serangan pasukan Mongol yang mengerikan. Allah masih tegakkan Islam di bawah panji Shalahuddin al Ayyubi untuk memberikan kemenangan atas pasukan Salib. Allah kirim hidayah kepada penguasa-penguasa Mongol sehingga mereka akhirnya justru menjadi pembela Islam setelah sebelumnya mereka menghancurkan Baghdad dan menghancurkan pustaka pengetahuan umat Islam di kota ilmu itu. Dengan izin Allah, satu bagian dari keturunan bangsa Mongol itu akhirnya tampil gagah perkasa dan menjadi penakluk Konstantinopel. Memang pasukan terbaik yang menaklukkan kekuatan terkokoh di dunia saat itu adalah yang leluhurnya memang memiliki modal militer yang besar. Merekalah bangsa Turki.

Sekokoh apa pun benteng Konstantinopel, dengan pertolongan Allah bangsa Turki akhirnya berhasil menaklukkannya. Akhirnya Turki tumbuh menjadi kemaharajaan besar dan mendapat kepercayaan untuk giliran memimpin umat Islam setelah bangsa Arab, Persia dan bangsa-bangsa kecil tak sanggup menyatukan umat Islam lagi. Tapi Turki adalah bangsa militer, maka wajah kekuasaan mereka lebih didominasi oleh pengerahan pasukan dan kemenangan perang. Karena setiap bangsa memiliki tradisi dan kebudayaannya. Kita tidak seyogyanya mencela tradisi-tradisi besar mereka agar kita nantinya juga tidak terlalu pekok jadi pengagum buta mereka. Umat Islam menjadi kuat secara militer, tetapi kita semakin mundur secara ilmu pengetahuan dan teknologi. Apalagi meskipun imam madzhab 4 sudah merumuskan ilmu-ilmu fikih, tahun 2015 ini kita masih jumpai segelintir orang yang meributkan cara-cara shalat hingga suka menuduh-nuduh orang yang sudah shalat sebagai orang sesat.

Timur Tengah sudah hancur secara kebudayaan hari ini. Bahwa haramain tetap menjadi sumber ilmu, bahwa hadramaut tetap menjadi sumber ilmu, bahwa al Azhar tetap menjadi sumber ilmu, tetapi karena kebudayaan masyarakat Islam telah rusak, bagaimana kita akan mengimplementasikan Islam sebagai sebuah sistem sosial. Sementara Barat terus memperlakukan Islam dan umat Islam dengan persangkaan buruk mereka. Mereka selalu menilai Islam bukan dari al-Quran tetapi dengan melihat perilaku sebagian bangsa Arab di Timur Tengah yang hobi berkonflik dan berbagai kebejadan moral lainnya. Justru trend itu terus didesain dan dikarang-karang di negeri yang terkenal paling harmonis sepanjang waktu ini, Nusantara. Kita mulai diprovokasi untuk hidup dalam budaya Timur Tengah yang suka berkonflik dan tak mampu menyelesaikan perbedaan dengan cara yang sopan. Kita sekarang mulai dididik untuk dikit-dikit menyesatkan dan mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan kita. Main pedang, main tangan, dan main kasar.

Maka, apa kita masih mau meneruskan cara hidup hari ini dengan meniru model bangsa Arab sekarang yang jangankan membentuk koalisi Arab secara kebudayaan, wong membangun koalisi militer saja sudah tidak mampu kok. Jika mereka mampu, Israel sudah hancur berkeping-keping karena dikepung dari segala penjuru. Kita punya marwah sendiri untuk hidup sebagai seorang muslim di bumi Nusantara ini. Kita memiliki warisan-warisan nilai dari para waliyullah bagaimana menjalin keharmonian di tengah masyarakat kita. Mereka (Arab) telah kembali menjadi bangsa yang lemah sepeninggal Rasulullah dan para sahabat utama. Mereka bukan lagi bangsa Arab di masa Abu Bakar dan Umat hidup. Mari kita tiru bangsa Arab dari wajah pendahulunya, bukan wajah penerusnya hari ini secara umum.

Karena toh sang al Mahdi adalah satu-satunya mutiara yang nanti akan di-islah oleh Allah semalam. Sementara pasukannya adalah pembawa bendera hitam dari Timur. Kata Timur disebut, mengapa kita tidak berhusnudzan siapa tahu itu adalah bangsa-bangsa di tanah Nusantara ini. Apa yang tidak mungkin jika Allah menghendaki? Mengapa kita begitu inferiornya sekarang. Inferior pada Barat, inferior pada Arab, dan inferior pada Tiongkok. Saru tenan. Sumpah saru tenan. Apa kita tak malu dengan mbah-mbah buyut kita yang telah mewariskan keluhuran akhlak dan budi pekerti serta kehormatan sehingga kita sekarang mulai bertingkah seperti budak.

Surakarta, 16 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.