Saya lebih percaya pada pendapat para sejarawan yang mendefinisikan bahwa Islam di bawa ke Indonesia oleh para ulama dari masa ke masa bahkan sejak zaman para sahabat ada, dan bukan lewat jalur perdagangan. Mengapa? Karena konstruktsi sosial masyarakat kita saat itu meletakkan pedagang tulen (pencari kekayaan harta) sebagai kasta rendahan, yg mulia adalah para resi/ begawan.

Maka yang bisa membawa ajaran Islam masuk ke tengah masyarakat Nusantara ya orang yang kualifikasinya resi/ begawan, mereka memiliki kreativitas kebudayaan yang tinggi sehingga bisa diterima oleh masyarakat. Merekalah para ulama waliyullah yang meneruskan risalah Rasulullah dengan pendekatan yang arif sesuai dengan kadar kepahaman masyarakat kita. Proses ini memang lambat, tapi dampaknya sangat kuat dan mengakar.

Sekian abad berlalu, konstruksi tersebut terbalik akibat kolonialisme. Dakwah kultural itu terputus karena jaringan perdagangan dan pendidikan disabotase. Energi umat dikerahkan untuk jihad, namun kaum penjajah berhasil menjinakkan para penguasa Nusantara dengan cara2 kotor yang terus diwarisi para pejabat NKRI sekarang. Hari ini begawan tidak dianggap apa2, apalagi jika tidak punya kuasa dan harta.

Dan semakin dicermati, kadang terasa memalukan sekali karena bahkan terkadang perebutan kursi yang ngakunya demi memperjuangkan soal kesejahteraan rakyat itu sebenarnya juga cuma buat cari seputar duniawi juga. Saya cuma berharap semoga jangan sampai ketipu masuk dan membantu orang-orang yang niat dan tujuannya semacam itu.

Surakarta, 18 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.