Ilmu fikih itu memang akan selalu mengekor dibelakang realita. Ada realita dulu, baru muncul pembahasan fikihnya. Jadi kalau beragama selalu nunggu putusan fikih, ya umat akan selalu terbelakang.

Paling sederhana gini, dulu Nabi itu kan mraktekin shalat. Lalu orang-orang yang hidup sezamannya mengikuti shalat Nabi. Di kemudian hari baru dirumuskan cara shalat yang sesuai Nabi. Itulah fikih shalat. Dan kita semua tahu, terkait fikih shalat ini ada banyak perdebatan yang hingga hari ini masih nggak selesai-selesai, padahal sudah 14 abad.

Jadi, apa kunci orang beragama? Keteladanan. Wis to, agama itu akan menjadi lebih mudah diamalkan jika dakwahnya dengan keteladanan. Ora perlu diceramahke akeh-akeh. Apalagi membahas fikih sampai sebegitu detilnya di muka umum. Silahkan membahas fikih dengan detil di kalangan terbatas, yang sama-sama memiliki kitab rujukan yang banyak. Kalau di publik, sudahlah hentikan kekonyolan dengan mengadu domba umat Islam dengan versi-versi fikih semacam itu. Umat lebih butuh dicontoni dengan tindakan-tindakan yang realistis sesuai kebutuhan untuk menghadapi masalah hari ini.

Semakin ke sini, umat Islam menghadapi banyak realita yang kompleks. Sementara kebanyakan ulama masih melihat rujukan-rujukan fikih di 3-4 abad silam atau yang lebih lama lagi. Padahal revolusi sains dan teknologi itu sudah sangat cepatnya. Kalau umat Islam tidak dibekali dengan dasar-dasar etika yang tauhidi, dan apa-apa harus nunggu fatwa ulama, selak digiles sama kapitalisme. Bahkan kapitalisme hari ini telah menjajah institusi-institusi keagamaan dan menjadikan umat yang bernaung di bawahnya sebagai bilangan yang potensial secara ekonomi untuk pengerukan kapital. Kurang apa lagi.

Semakin hari, jumlah manusia itu semakin banyak. Mereka potensi bagi peradaban jika digarap dengan dakwah yang serius. Tapi mereka juga sekaligus bencana peradaban jika hanya tumbuh menjadi umat yang taqlid dan jumud.

Surakarta, 2 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.