Kaum urban sangat rawan dijadikan obyek kapitalisasi apa pun. Dan itu sudah terlihat saat ini. Makanya keberadaan penguasa begitu penting artinya bagi mereka.

Kaum pedesaan yang masih bertahan pada semangat produksi akan tetap woles melihat hidup ini, sebab prinsip produksi yang mereka jalani bukan semata-mata untuk dijual, tetapi memenuhi kebutuhan sendiri.

Sekalipun mereka mungkin kadang-kadang berinteraksi dengan area urban, mereka tetap percaya diri dengan apa yang mereka miliki. Itulah mengapa Madinah dulu tidak bangkrut meskipun diblokade berpuluh-puluh hari. Sebab masyarakatnya rural dan produktif.

Hal itu berbeda dengan Mekah. Ketika pasca perjanjian Hudaibiyah, satu persatu kabilah Arab menyatakan setia kepada Nabi Muhammad. Kadang-kadang demi membuktikan kesetiaannya, para pemimpin kabilah menyatakan boikot untuk menyupai Mekah. Akibatnya, Mekah mengalami bencana kelaparan dan kekurangan suplai barang-barang. Sebab Mekah adalah potret urban yang sangat mengandalkan suplai dan pengelolaan dari para penguasanya.

Nah, sekarang ini, bangsa ini secara tidak sadar meng-urban-kan dirinya, tidak hanya secara wilayah tetapi juga secara kebudayaan. Kita menjadi bangsa konsumtif dalam hal apa saja. Termasuk dalam beragama. Kita rajin kajian dan mengkonsumsi pendapat para ustadz, tapi jarang melakukan perenungan-perenungan hidup atas masalah-masalah riil yang kita hadapi lalu mengambil keputusan sendiri dengan penuh tanggung jawab. Kita jadi konsumen fatwa yang tidak jarang mempertengkarkan fatwa di antara sesama kita.

Dengan ketidakmandirian beragama yang sedemikian parah, maka kita tidak bisa berbuat banyak untuk bertahan hidup sebagai manusia yang bertauhid. Untuk sekedar menjadi Islam tok saja susahnya bukan main sekarang, sebab kalau tidak menisbatkan pada madzhab/golongan tertentu dianggap domba yang sendirian, sehingga rawan dimangsa serigala. Lebih susah lagi, kita sudah tidak memercayai bahwa Allah menciptakan manusia itu untuk dihargai martabatnya. Makanya dimana-mana terjadi perendahan martabat, pembunuhan, dan penindasan. Sebab, begitu kita menjadi Firaun, kita merasa bebas memperlakukan orang lain sebagai Bani Israel.

Potret ketergantungan masyarakat kita pada kebijakan politik saat ini menunjukkan betapa konyolnya kita sekarang membangun peradaban. Mungkin Tuhan sebaiknya memerintahkan langit untuk bicara, “Yang nyuruh kalian bikin negara siapa? Bikin-bikin sendiri, susah-susah sendiri, lalu kalian saling bertengkar dan berbunuhan demi mendukung sesama kalian. Apa kalian sudah lupa sama Aku?”

Surakarta, 26 April 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.