Karena masjid adalah semacam lembaga siaran publik, ada baiknya memperhatikan keumuman yang berlaku di masyarakat itu.

Misalnya, dalam hal azan, saya kira dikeraskan perlu agar menjadi tanda waktu. Tidak hanya bagi umat Islam, umat lain pun saya kira diam-diam juga terbantu dengan tanda-tanda waktu itu ketika mereka beraktivitas.

Tapi di luar itu, rasanya kok berlebihan ya kalau serba dikeraskan. Apalagi bahasan-bahasan kajian yang terkadang butuh dipahami dalam konteks terbatas tapi malah dikeraskan ke publik. Di samping menimbulkan ketidaknyamanan orang di sekitar juga bisa jadi bumerang ketika dicomot-comot sekenanya lalu disalahgunakan.

Bagaimana jika umat Islam yang minoritas? Ya prinsipnya tetap sama. Perlu dikomunikasikan dengan pihak mayoritas bagaimana baiknya untuk kebersamaan. Jangan jadikan pula keadaan yang sedang menimpa umat Islam minoritas, untuk legitimasi di daerah-daerah yang umat Islamnya mayoritas untuk mengeksploitasi masjid atas nama syiar, tapi ada kesan pembalasan atas berbagai pembatasan syiar Islam di daerah yang umat Islam-nya minoritas. Kalau caranya seperti itu, ya berarti kita gagal memenangkan hati masyarakat.

Kasus Tanjung Balai adalah alarm agar kita tidak gegabah sehingga menimbulkan kegaduhan dan kerusuhan. Sejauh informasi yang berhasil saya baca, ada fungsi sosial yang berjalan tidak efektif di masyarakat itu, yaitu musyawarah. Ketiadaan fungsi musyawarah yang baik membuat pihak minoritas tidak bisa menyuarakan keluhannya lewat perwakilan yang memadai (sehingga tidak asal nyeletuk dalam bahasa yang kurang etis), serta membuat pihak mayoritas mudah diprovokasi untuk melakukan hal-hal yang merusak kerukunan.

Apa yang terjadi di Tanjung Balai adalah cermin potensi keretakan yang sedang terjadi di kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Apalagi berbagai perkubuan sangat mudah menyulut emosi dan mematikan nalar kita. Jika kita tidak segera sadar, maka kita harus waspada dengan ancaman konflik sosial yang polanya balas membalas seperti yang awet dan terus terjadi di tengah bangsa Arab dari sejak sepeninggal khalifah empat hingga saat ini.

Surakarta, 23 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.