Kata “politik” sendiri memang mengalami distorsi makna, dimana politik adalah yang begitu-begitu itu (tahulah maksud saya). Dalam dinamikanya, muncul wacana melarang adanya pembicaraan politik di masjid. Akibat wacana itu, muncul pro kontra. Yang pro maupun yang kontra soal isu itu kayaknya ya cuma yang berkepentingan atas polemik politik (menurut makna sekarang) yang sedang berjalan.

Yang bertahan pada tradisi masjid Rasulullah tidak akan bergeming. SebabĀ yang menjalankan tradisi ini, akan tetap ke masjid, untuk shalat, srawung, dan menyelesaikan urusan-urusan sosial yang ada. Mereka tidak menganggap penting-penting amat eksistensi negara secara formal, tapi juga tidak mengganggunya. Mereka tetap beraktivitas biasa saja, selama pemerintah dan kaki tangannya tidak “kencing” di masjid.

Masjid Rasulullah itu tidak berorientasi pada bangunan fisik, mampu menampung semua perbedaan, menjunjung tinggi etika kemanusiaan, dan memberi ruang kepada manusia untuk tafakkur merenungi pemikirannya setelah berinteraksi dengan berbagai hal. Sesama manusia tidak bisa saling memaksakan pendapat dan menganulir pendapat liyan. Mereka hanya bisa bertukar pandangan, lalu menguji kualitas pendapatnya dengan masukan-masukan baru yang diterima. Di situlah masjid menjadi tempat tafakkur untuk membuat keputusan mempertahankan pendapat atau mengoreksi pendapat lama.

Dan tentunya, masjid Rasulullah memberi manfaat sosial. Menjadi tempat tinggal yang gelandangan, menjadi tempat mendapatkan makanan bagi yang kelaparan, menjadi tempat yang akrab bagi yang kesepian, serta yang paling utama menjadi tempat mengalirnya ilmu sebab di sana selalu disinggahi para pejalan hidup. Jadi, dengan keistimewaan masjid yang semacam itu, apa bahasan pemilu masih menarik untuk dibahas? Umat Islam yang sudah larut dalam ikatan dengan masjid semacam itu, apa masih menganggap persoalan kekuasaan sedemikian serius untuk direbut?

Selagi masjid ini tidak diusik, biarkan mereka bertengkar berebut kursi. Di masjid ini, imam bukan tempat rebutan, tetapi saling mempersilahkan. Di masjid ini, umat Islam yang tidak qunut tidak merasa keberatan dengan imam-imam yang qunut, sebab yang terpenting dari kebersamaan itu adalah menjaga keseimbangan bersama. Di masjid yang meneruskan tradisi Rasulullah ini, kita semua berbahagia dan bisa belajar mengendalikan diri untuk tidak sombong, serakah, mendengki.

Tapi, itu semua masjid imajinasi pikiran saya. Dengan imajinasi seperti itulah saya bisa menikmati masjid dan keindahan Islam zaman now meski konon katanya Islam sedang dimainkan dan diperdagangkan untuk kapitalisme. Ah itu kata mereka. Kataku, Islam yang kupeluk ya begini ini kok. Nikmat.

Surakarta, 24 April 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.