Di tengah kekuasaan oligarki, banyak rakyat yang masih setia menjadi kecebong, kecoak, kampret, dan lain-lain.

Padahal para anggota oligarki ini tidak segan-segan berbaju nasionalis, komunis, kapitalis, bahkan agamis sekaligus.

Hingga hari ini, banyak sekali rakyat yang masih percaya bahwa para anggota oligarki ini ada yang bisa mengentaskan penderitaan mereka. Saking percayanya, mereka bertengkar karena beda jagoan. Padahal para anggota oligarki ini memang sudah sebuah jaringan sendiri yang selalu di atas.

Kejadian ini mengingatkanku pada masa ketika oligarki Quraisy mengangkangi Mekah. Lalu saat itu ada seorang yang kakeknya disegani para anggota oligarki itu. Ia seorang biasa, pedagang ulung, yang terkenal reputasi kejujurannya. Lalu ia menyerukan posisi egaliter sesama manusia yang mengancam keberadaaan oligarki Mekah.

Dialah laki-laki biasa yang lebih banyak dipercaya para budak dan orang-orang miskin. Sebab para budak dan orang-orang miskin mata batinnya banyak yang masih jernih untuk melihat kebaikan sebagai kebaikan, kezaliman sebagai kezaliman. Adapun mereka yang terbiasa hidup dalam jaminan para anggota oligarki, dibutakan matanya dan takut dikucilkan oleh sistem tersebut.

Hari ini, Indonesia sedang seperti itu. Banyak rakyat di negeri ini yang tidak memercayai dirinya sendiri dan sesama mereka. Mereka lebih percaya mitos-mitos modern yang sering kita sebut sebagai PENCITRAAN. Sampai kapan kita akan bisa memercayai sesama rakyat yang sedang diinjak-injak oleh kekuasaan oligarki ini?

Surakarta, 1 Maret 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.