Bagaimana cara berbisnis seperti Rasulullah? Ya mewakafkan hidupnya untuk dibeli oleh Allah subhanahu wa ta’alaa.

Kalau ingin berbisnis agar dapat keuntungan materi dan simpati pembeli, ya tirulah Muhammad bin Abdullah sebagai manusia. Berbisnis dengan kejujuran dan ketekunan.

Jika percaya dengan catatan sejarah bahwa beliau dilantik menjadi Rasul usia 40 tahun, maka yang bisa ditiru dari bisnis beliau ya ketika masih menjadi manusia Muhammad, bukan setelah menjadi seorang Rasul.

Ketika beliau sudah mengemban tugas kerasulan, beliau letakkan bisnis-bisnis duniawi dan fokus pada bisnis akhirat. Ketika menjalankan tugas kerasulan, secara duniawi beliau diberi jatah oleh Allah berupa 1/5 hasil rampasan perang. Katakanlah sekali perang dapat rampasan senilai 1 T, berarti beliau berhak atas harta senilai 200 M.

Tapi lihat riwayat-riwayat yang menceritakan kehidupan beliau, betapa sederhananya. Bahkan kalau mengacu standar pemerintah sekarang, maka beliau bisa masuk kategori sangat-sangat miskin. Begitupun Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Kalau Ali sih memang sejak mudanya memilih hidup “miskin” secara harta, sehingga dikisahkan betapa melasnya kehidupan rumah tangga Ali dan Fatimah.

Bagi saya, kehidupan Nabi Muhammad secara utuh adalah sebuah metode kehidupan yang layak ditiru kita semua. Apakah Anda percaya beliau sebagai rasul atau tidak, tapi jika kita mempelajari perjalanan hidup beliau sebagai manusia, niscaya akan banyak kebaikan yang bisa kita gali dan terapkan. Tidak peduli apakah Anda seorang Nasrani, Yahudi, ataupun yang lainnya.

Muhammad sebagai manusia tumbuh sejak lahir hingga diangkat menjadi Rasulullah ketika usia 40 tahun. Artinya selama itu beliau mengalami proses menjadi manusia hingga akhirnya paripurna dan layak mengemban tugas. Ibaratnya beliau secara hardware dan software mengalami kematangan sempurna sehingga ketika al Quran diturunkan beliau sudah sangat siap.

Maka dari itu, dalam mendidik anak, maka penekanan di usia kanak-kanak mereka ya sebenarnya lebih ke tauhid dan akhlak. Tidak perlu banyak dijejali fikih, apalagi polemik fikih yang sekarang tak berujung itu. Biarkan mereka berproses dalam fikih dengan belajar sebanyak-banyaknya sehingga tidak lagi alergi dengan berbagai perbedaan pendapat yang sering menimbulkan pertengkaran semacam sekarang.

Selain itu, sebelum usia 40 tahun sebenarnya wajar jika kita menjadi generasi muda masih suka ngglidik. Selama penjagaan keyakinan pada Allah dan pembinaan akhlak berjalan, senakal-nakalnya pemikiran anak-anak muda pasti akan menemukan titik endapnya setelah dewasa. Bukankah nakal di masa muda akibat petualangannya yang banyak justru akan membawa manfaat di masa tuanya setelah insyaf. Meskipun tidak berarti kita membenarkan bahwa selagi masih muda, nakallah senakal-nakalnya. Yang parah adalah sampai tua tidak kunjung insyaf, malah semakin menjadi-jadi.

Ketika telah melewati usia 40 tahun, maka jika mengikuti Rasulullah berarti manusia harus sudah mengendap. Itu usia matang kepemimpinan yang sudah tidak lagi berbicara soal dunia dan kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri. Di masa beliau masih fase manusia saja, beliau sudah berhasil menyelesaikan konflik yang mengancam persatuan kabilah Quraisy gara-gara peletakan Hajar Aswad. Maka ketika beliau sudah menjadi Rasulullah, kebijaksanaannya semakin terlihat.

Jika mau disebut beliau lenggah minandita ya bisa saja. Tapi dengan “mendita” tidak berarti beliau meninggalkan kehidupan manusia. Beliau tetap hidup di tengah-tengah kaumnya, hanya saja sudah mengalami pergeseran orientasi secara drastis. Dari semula beliau seorang pedagang wajarnya yang melakukan transaksi bisnis, berubah menjadi seorang begawan yang mengajak manusia untuk memperbaiki akhlaknya. Beliau tidak lagi bekerja untuk pencapaian materi dan eksistensi dirinya, melainkan untuk memperbaiki masyarakat. Maka wajar ketika kemudian kepemilikan materi beliau terus menipis seiring waktu karena diwakafkan untuk dakwah di jalan Allah.

Apakah lantas kehidupan beliau tidak terjamin? Tetap terjamin. Bukankah Umar sampai pernah menawarkan seandainya beliau mau, akan dibangunkan istana yang layak untuk beliau. Bahkan Allah pun melalui Jibril menawarkan kekuasaan kerajaan dengan kekayaan emas sebesar gunung Uhud jika beliau menghendaki. Ternyata menjadi hamba yang miskin dan bisa hidup apa adanya di tengah masyarakat adalah pilihan hidup beliau setelah menjadi Rasulullah.

Itulah mengapa, saya agak alergi dengan jargon-jargon perdagangan yang menisbatkan diri pada Rasulullah dan label-label Islam. Menurut saya, berdagang atau berbisnis yang Islami itu ya jujur, menjaga kualitas produk, serta tidak bernafsu untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa melihat keseimbangan ekonomi umat secara keseluruhan. Intinya merasa cukup dengan penghasilan asal bisa memenuhi kebutuhan hidup dan memiliki cadangan yang pantas untuk melanjutkan hidup. Tidak terus menerus menumpuk kekayaan tetapi menindas manusia, terlebih sesama umat Islam.

Lebih murka lagi saya melihat para pemimpin yang mengaku-ngaku ingin memperjuangkan nasib rakyat, tapi nafsu mereka mengejar pencapaian materi tidak mengalami penurunan. Jadi mereka tetap berlaku sebagai makelar di tengah tugas kepemimpinan yang seharusnya mereka emban. Jadilah seperti yang kita rasakan sekarang.

Sudahlah, mbok jujur saja. Kalau masih bernafsu ndagang ya dodolan saja to ya. Dodolanlah yang kaffah, pokoknya cari untung sebesar-besarnya dan tumpuk harta sebanyak-banyaknya. Kalau sudah merasakan kejenuhan hidup secara materi dan rindu akan spiritualitas ya mulailah untuk menepi dan ber-uzlah agar bisa merasakan kenikmatan menikmati dunia kependitaan. Tidak harus menyingkir dari dunia, tetapi mulai melihat dunia dengan cara pandang baru dari yang sebelumnya.

Tidak perlu melakukan talbis-talbis seperti sekarang, dengan menggunakan kosakata-kosakata agama untuk melariskan dagangan. Karena nilai-nilai Islam tidak terletak pada kata-kata berbahasa Arab-nya, tapi secara rasa bisa dikenali kok mana yang Islam beneran mana yang ndagang. Dan itu sangat mudah dirasakan.

Saya baru berusia 27 tahun, pikiran saya pun masih suka ndagang kok. Maka saya tidak terlalu senang berjualan apa pun dengan mengait-ngaitkan pada masalah agama. Pokoknya saya punya dagangan, tak jual. Dan sudah pasti Anda yang mau beli dagangan saya sadar to bahwa saya juga cari untung. Semoga Anda percaya dengan dagangan-dagangan yang saya tawarkan sehingga dengan keuntungan dagangan saya yang laku, saya bisa meneruskan kehidupan saya. Anda juga bisa mendapatkan manfaat dari dagangan saya.

Saya sangat mencintai Rasulullah sebagai junjungan dan teladan saya. Makanya saya tidak rela jika keagungan beliau dijadikan pelaris dagangan dengan cara-cara yang tidak beretika.

Surakarta, 6 Januari 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.