Saya sepakat dengan pernyataan Kiai Muzammil, bahwa pemerintah itu kuat karena rakyatnya masih banyak ketergantungan dengan kebijakan pemerintah.

Kalau rakyat kompak cuek dan tidak banyak menuntut pemerintah, sekaligus rada-rada kemaki, kayaknya mereka juga akan pikir-pikir juga. Meminjam istilah Pak Suyudi, pendiri SABS, lebih baik minta maaf dari pada minta izin.

Pemerintah itu tidak perlu dilawan, karena kalau dilawan mereka semakin eksis. Pokoknya kembali ke konsep keluarga dan desa. Kuatkan tatanan desa dan hidup normal bahwa keluarga, tetangga, dan tamu yang berkunjung ke rumah kita jauh lebih penting dari pada presiden dan segala polemik Jakarta.

Kita (umat Islam) itu sering termakan jargon untuk membangun imperium raksasa seperti zaman dinasti Umayyah hingga Utsmaniyah tapi tidak lengkap baca sejarah. Padahal zaman Yazid bin Muawiyah bertahta saja sudah memakan korban 200 ribu umat Islam yang disembelih oleh penguasa Islam sendiri lho.

Dari semua raja yang bertahta setelah Muawiyah hingga Sultan Abdul Majid dari Utsmaniyah, hanya beberapa saja yang shalih dan dikenang sejarah, di antaranya Shalahuddin al Ayyubi. Selebihnya mereka adalah raja yang seperti umumnya raja yang mabuk dengan kekuasaannya. Para ulamalah yang berjuang menata umat agar tidak memasuki jebakan para penguasa sehingga mereka menghabiskan hidupnya untuk saling mendukung penguasanya dan mati sia-sia dalam perang saudara.

Shalahuddin al Ayyubi sendiri membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk menyatukan Mesir dan Suriah dan hanya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk membebaskan Yerusalem. Perjuangan berat beliau justru bukan bangsa Frank yang berkuasa di Yerusalem, melainkan rivalitas para penguasa muslim yang hingga hari ini bisa kita saksikan di dunia Arab serta para pembunuh berdarah dingin dari kaum Hasysyasin.

Silahkan kalau ingin menegakkan imperium umat Islam dengan kekuasaan. Tetapi ingat bahwa ada harga nyawa yang harus dibayar. Tidak setiap penguasa bermurah hati dan hidup sederhana seperti Shalahuddin dan beberapa raja lainnya. Kebanyakan penguasa akan menggunakan tangan kekuasaannya untuk menghabisi siapa pun yang menentangnya dan dijadikan tumbal dalam perjalanan sejarahnya, sekalipun ia seorang ulama yang alim. Mereka tidak segan-segan menghabisi ulama ketika memiliki kesempatan dan berhasil memanipulasi nalar publik agar tidak percaya lagi dengan sang ulama.

Hal ini penting agar kita tidak putus asa ketika melihat kenyataan hari ini. Sebenarnya tidak pernah ada masalah dengan umat Islam, karena mereka bisa tetap hidup dan beriman dalam keadaan apa pun. Raja yang adil dibangkitkan dari umat Islam yang meluruskan tauhidnya. Jika kita tidak sungguh-sungguh menata hati dan keyakinan kita serta masih sibuk cari recehan dan berebut remah-remah materi, tidak usah muluk-muluk berpikir akan bangkitnya Shalahuddin al Ayyubi kembali. Jangankan kok membangkitkan Shalahuddin, wong kita melihat ulama saja gagal gara-gara terpedaya TV, YouTube, sorban, dan segala aksesoris yang menipu kita.

Prajurit-prajurit utama Shalahuddin adalah murid-murid penerus Imam al Ghazaly dan murid madrasah Syech Abdul Qadir al Jilany, bukan kaum yang gampang panasan dan mudah terprovokasi. Mereka setia bersama sang Sultan bertahun-tahun menyatukan para penguasa Islam agar tidak bersekutu dengan bangsa Frank untuk saling menghancurkan sesama umat Islam.

Kita tidak banyak membaca sejarah bahwa setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib, umat Islam sudah mulai terpecah-pecah kekuasaannya meskipun dalam payung satu Dinasti Umayyah. Kita tidak banyak tahu bagaimana para raja silih berganti melalui pergantian kekuasaan yang mengerikan di mana mereka saling menyingkirkan satu sama lain. Hingga puncaknya mereka semakin kacau balau ketika pasukan Salib menyerang Yerusalem dan bangsa Mongol melebarkan kekuasaannya ke Baghdad.

Kekhilafahan itu hanyalah simbol untuk persatuan. Tapi agar kekhilafahan itu tidak dibubarkan seperti era Attaturk yang dibutuhkan adalah akal sehat umat Islam untuk bersatu dalam hatinya, bukan dalam kekuasaannya. Karena sudah menjadi hukum alam, mereka yang berambisi berkuasa, pasti akan menaklukkan satu sama lain. Tetapi umat Islam yang tulus hatinya, akan menjadi penjaga agar kekhalifahan tidak hancur meskipun para raja terus berebut tahta kekuasaan tertinggi.

Kalau di zaman sekarang kita bisa ambil contohnya, meskipun para raja di kraton-kraton Nusantara banyak yang tidak sehebat pendahulunya, bahkan ada yang berbuat asusila, jangan lantas membubarkan kratonnya. Karena kraton adalah jiwa kedaulatan kita di masa lalu, penyambung kita dengan leluhur kita. Begitu pula kita memahami kekhilafahan agar kita tidak absurd dan lugu dalam membaca peta politik.

Jika umat Islam ingin tegak kembali, maka mari kita perbaiki keyakinan hati dan tauhid kita. Selama kita masih kalah ketika bertarung dengan diri kita sendiri, selama itu pula kemenangan akan jauh dari kita. Karena jihad terbesar adalah melawan diri, bukan melawan orang lain.

Surakarta, 19 Januari 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.