Dakwah Rasulullah itu sebenarnya proses orkestrasi apa dominasi?

Kalau orkestrasi, tetap ada dominasi, tapi itu berlangsung secara alami, karena yang dominan berarti dibutuhkan paling banyak dalam mekanisme orkestrasi.

Kalau dominasi, maka yang terjadi adalah gesekan antar unsur, karena masing-masing menghendaki dominasi atas yang lain. Sehingga proses negasi tidak dapat dihindarkan ketika terjadi kebuntuan.

Orkestrasi tidak akan mengingkari adanya perbedaan, karena perbedaan adalah bahan yang akan diorkestrasi menjadi sebuah tatanan harmoni. Syarat terjadinya orkestrasi adanya kesepakatan pada aturan mendasar. Sehingga jika satu unsur melanggar aturan, yang lain sepakat untuk menghukum.

Itu terlihat ketika satu kabilah Yahudi berkhianat di saat kabilah-kabilah yang lain bersatu menghadapi kepungan pasukan koalisi Arab. Akibatnya, para wakil kabilah memutuskan bahwa kabilah pengkhianat ini harus diberi sangsi. Yang membuat keputusan ini bukan Rasulullah lho, tetapi salah satu perwakilan kabilah yang ditunjuk sebagai hakim.

Selanjutnya kita perlu bertanya:

1. Untuk menjaga harmoni kehidupan di Nusantara ini, kita perlu membangun orkestrasi atau dominasi?

2. Khusus untuk umat Islam, dengan banyaknya ormas dan madzhab, yang perlu dibangun adalah orkestrasi atau dominasi?

3. Apa yang bisa dijadikan acuan untuk masyarakat Nusantara melakukan orkestrasi ini? Apakah mereka masih menganggap perlunya Pancasila? Kalau iya, mengapa ada pemilu, ada demokrasi, ada sekularisasi, ada liberalisasi, dan segala macam pengkhianatan pada Pancasila.

4. Apa umat Islam benar-benar beriman dan menjadikan al Quran sebagai landasan orkestrasi untuk membangun ukhuwah Islamiyah dan memberikan kontribusi dalam ukhuwah wathaniyah? Kalau iya, mengapa pertengkaran dan perebutan jabatan, pengaruh, dll di antara umat Islam begitu terasa?

Atau jangan-jangan sebenarnya masyarakat Nusantara saat ini memang membangun kehidupan dengan cara dominasi. Dominasi adalah cara khas Firaun dan generasi penerusnya yang selalu mengutamakan kebenarannya sendiri dan memaksakan segala kehendaknya seolah-olah seperti Tuhan. Lalu kita bertengkar untuk memaksakan kebenaran sampai lupa bahwa kita seharusnya segera berbuat banyak ketika alam semakin rusak, ketika manusia banyak yang mati dan tertipu dengan aneka rekayasa.

Juwiring, 28 Agustus 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.