Kata teman-teman saya yang bergelut di masalah Timur Tengah, perang yang berkecamuk di luar Palestina lebih banyak disebabkan karena kerapuhan sistem sosial budaya mereka.

Mereka kembali ke era jahiliyah di mana perang seperti syariat yang dilakukan demi konstelasi kekuasaan dan ekonomi. Tidak ada diskusi dan diplomasi yang sanggup mendamaikan lagi, karena yang bisa mungkin memang cuma para “nabi”.

Sekarang, tradisi perang semacam itu perlahan ditransfer ke dunia timur. Kita dahulu juga pernah perang memang, tapi melawan kolonialis yang jelas-jelas merampok dan merusak. Sekarang kita mau ikut-ikutan perang dengan sesama muslim?

Kelak memang akan terjadi perang sebagai konsekuensi kezaliman yg sangat terhadap umat Islam. Tapi bukan sekarang, kita butuh hujatul Islam seperti al-Ghazaly, mursyid umat seperti Abdul Qadir Jailany, dan panglima besar seperti Nuruddin Zanky dan Shalahuddin al-Ayyubi.

Itu pun tidak perlu dibayangkan seperti di film kolosal yang nuansa perangnya identik dengan pembantaian. Kita tidak diajari perang seperti itu kan? Sudahlah jangan membayangkan perang dan berimajinasi tentang pembantaian semacam itu.

Surakarta, 26 Mei 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.