Banyak hal lucu dan wagu yang bisa membuat kita awet muda karena tinggal di Indonesia.

Misalnya yang sudah saya tulis tentang mekanisme Pemilu kita yang lucu. Proses pendaftaran calonnya mudah, kampanyenya simpel, pengambilan keputusannya cuma sedetik tanpa proporsi yang adil (yang cendekia disetarakan dengan yang bodoh). Gitu kok berharap lahir pemimpin hebat yang bertanggung jawab, adil, jujur, dan menyejahterakan.

Contoh lainnya adalah pendidikan kita. Kita berharap lahir generasi Indonesia yang hebat, cerdas dan mandiri. Tapi kurikulumnya tidak karuan seperti sekarang, mentalitas pendidiknya juga justru dirusak oleh sertifikasi yang meningkatkan gaya hidup hedonis mereka. Gitu kok berharap lahir generasi unggul, yo piye sih. Kan lucu sekaleeee.

Kalau bicara persatuan antar umat Islam dan kerukunan antar umat beragama, itu juga bikin geli. Wong katanya teriak bersatu, tapi fanatik golongan malah semakin menjadi-jadi. Katanya saling menghargai perbedaan, tapi jatuhnya saling mengintimidasi dan menyingkirkan. Ada banyak kemunafikan dalam persaudaraan umat.

Belum lagi golongan pluralis yang ngaku Islam tapi suka merusak sendi akidah umat dengan berbagai pernyataan konyolnya. Bukannya semakin belajar agama sungguh-sungguh, malah nggatheli dengan bilang bahwa “semua agama sama-sama benar”. Lha kalau gitu, terus ngapain cuma memeluk satu agama, kenapa nggak gonta-ganti agama saja atau bikin jenis agama baru kompilasi gitu?

Saya rasa pemahaman pekok semacam itu juga tidak bakal disetujui teman-teman saya dari penganut agama lain yang taat dengan ajaran agamanya. Mereka yang taat pasti meyakini ajaran agamanya yang paling benar, makanya mereka akan mengajak yang lain memasuki agama mereka. Dan ini yang menurutku masuk akal. Dan seharusnya umat yang beragama ya begitu. Selama ajakan masuk ke dalam agamanya dilakukan tanpa pemaksaan, maka sah-sah saja. Dan itulah salah satu poin untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama.

Masih banyak hal konyol-konyol yang sebenarnya itu sangat tidak dapat diterima akal sehat. Tapi yang mengherankan, hal-hal yang tidak masuk akal semacam itu, ternyata juga diikuti oleh banyak orang di negeri ini. Janjane sing gendeng sapa to ya. Atau memang kita adalah jenis manusia hibrida yang berbeda dengan umumnya manusia di dunia, yang cara berpikirnya memang lain dari pada yang lain.

Juwiring, 20 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.