Hal yang masih terus saya gali dan dionceki dari nasihat Cak Nun adalah moral ada di atas hukum.

Dalam penegakan hukum mengenai korupsi, Cak Nun sering banget berkelakar. “Jan jane sing do sengit karo koruptor dan perilaku korupsi itu karena eman duite dicolong apa karena memang moralmu sudah anti terhadap korupsi? Aja-aja sengite ki merga ora entuk kesempatan lan wedi yen negarane bangkrut? Nek mung levele semono berarti kuwi levele lagi tekan pemahaman hukum”.

Dan ternyata itu menarik. Semakin banyak pasal hukum dibuat. Dilarang ini itu, nyatanya yo tetap begini. Mengapa? Karena memang kualitas moral kita turun. Ancene nggatheli kok. Untuk tidak mencuri, untuk tidak nganu-nganu begitu, sepertinya kalimat “Allah Maha Tahu” sudah tidak cukup lagi. Jadi kadang memang kita perlu bertanya lagi, “masih berimankah kita?”.

Jika ditarik ke ranah pengamalan Islam dalam kehidupan makin kerasa lagi. Madzhab dan berbagai perilaku ekstrim yang mengemuka belakangan ini menurut saya juga senada dengan problem soal korupsi tadi. Islam justru ditutupi oleh madzhab dan berbagai fanatisme yang ada. Rasanya sekarang untuk mengaku Islam thok gitu dianggap tidak umum. Lha piye to, jare Islam itu satu.

Perdebatan fikih yang hingga hari ini tak kunjung selesai, terlebih dipicu dengan hadirnya media sosial semakin semrawut. Tapi dari situ kita belajar bahwa akhlak kita memang semakin merosot. Kemerosotan akhlak ini meretakkan sendi-sendi ukhuwah kita. Belum lagi kalau udah ketemu urusan ekonomi dan politik, itu sangat nyebahi. Di usaiku yang baru seperempat abad ini saja gesekan-gesekan semacam itu saja sudah kerasa tidak mengenakkan, apalagi semakin bertambah usia nanti.

Jika pencuri sandal dilihat dengan pendekatan hukum niscaya kita hanya sampai pada perkara dia melanggar pasal berapa, dihukum sekian, dan selesai. Tapi jika kita melihat dengan pendekatan akhlak, kita akan mengerti mengapa dia mencuri, keluarganya begini, masyarakat asalnya begini, kenapa nyurinya di sini, bla bla bla. Sampailah kita pada kesimpulan bahwa pranata kehidupan kitalah yang salah. Ke-Islam-an kita ternyata belum mampu menghasilkan tatanan sosial yang egaliter seperti yang sudah dicontohkan Rasulullah.

Jadi perkara mengikuti sunnah itu tidak hanya urusan penampilan fisik personal, tetapi juga metode, pola pikir kolektif, dan upaya-upaya sosial yang ditempuh beliau dalam mengajarkan nilai-nilai Islam. Jika dengan alasan ikut sunnah, lalu yang memakai gamis merasa lebih shalih dari yang memakai surjan (padahal sama-sama menutupi aurat), maka ada satu maksiat yang tumbuh, kesombongan.

Dan betapa kita hari ini lebih susah menghadapi kesombongan diri kita sendiri. Apalagi jika posisi kita di mata manusia semakin moncer, jadi tokoh, jadi ustadz, jadi yang gitu-gitu. Silahkan bilang macam-macam soal dakwah dan agama. Tapi untuk satu hal ini mari jujur saja, apakah kita sudah terbiasa untuk mengakui, mengoreksi apa yang salah di masa lalu, disampaikan terbuka untuk pelajaran bersama? Belum tentu.

Juwiring, 17 Desember 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.