Istilah ini pertama kali saya temui ketika membaca bukunya Mbah Nun tentang “Gelandangan di Kampung Sendiri”. Definisinya, menurut konteks tulisan beliau ketika itu adalah sindiran untuk orang-orang yang sok moralis terhadap kesalahan orang lain, tapi sangat toleran ketika yang berbuat kesalahan adalah diri sendiri.

Gampangannya simulasi hal itu seperti ini, korupsi itu jahat, tapi tidak apa-apa jika yang korupsi adalah saya, atau teman saya dan dia ngasih bagian saya. Mesum itu jahat, PSK itu menjijikkan, tapi ia cantik jika yang menikmati adalah saya. Politik itu kotor, pelakunya akan rusak, tapi politisi itu baik jika saya adalah temannya dan sering dikasih jatah.

Perilaku hipokrisi yang ambivalen semacam ini biasanya akan jadi ekstremis, ekstremis di berbagai bidang, tergantung kepentingannya. Ada yang terlalu ekstrim dalam beragama akan cenderung anti pada yang tidak sependapat dengan kepentingannya, lalu mentoleransi kepentingan-kepentingan kelompoknya. Yang terlalu ekstrim dalam berpendapat pada kebebasan, tetapi disaat yang lain akan melarang-larang orang yang dianggap menganggu kebebasannya.

Saya mencoba mengurai hal-hal sederhana dari pengalaman hidup saya maupun hasil diskusi dengan berbagai jenis orang. Kita yang hidup di zaman ambigu, serba tidak jelas, dan susah membuat ukuran baik-buruk karena saking kaburnya informasi-informasi faktual yang berkaitan dengan kehidupan kita (politik, ekonomi, kebudayaan, dll) membuat kita kelabakan untuk menganalisis. Dan yang tidak terbiasa berpikir kritis, sudah pasti akan jadi korban bulan-bulanan para pemain isu dan penjual devide et impera.

Di dunia perpolitikan, dalam skala kecil sajalah, banyak membuat kita terjebak untuk melakukannya. Kesetiaan yang buta cenderung membuat kita fanatik dan tidak mengambil sikap tengah-tengah ketika kesalahan terjadi. Lalu dengan dalih membela teman, kita mengabaikan kesalahannya dan menganggap benar. Apa susahnya mengakui kesalahan, sembari mengingatkan bahwa kita tidak seharusnya membenci sosok, tetapi cukuplah menolak hal-hal yang salah darinya. Selama belum mati, setiap orang bisa berubah kan.

Dalam dunia pergaulan misalnya, trend yang berkembang di kampus sekarang kan terlihat sangat Islami. Yang laki-laki bertransformasi menjadi “ikhwan” dan yang perempuan bertransformasi menjadi “akhwat”. Meskipun dalam bahasa Arab sebenarnya konteks ikhwan dan akhwat itu sama sekali tidak nyambung dengan realitas bahasa komunikasi anak-anak di dunia kampus sekarang, toh istilah itu terlanjur mengemuka, jadi ya diikuti dulu sementara sambil berupaya meluruskan penggunaan bahasa yang ngawur semacam ini.

Poin masalahnya adalah saat laki-laki sudah menjadi “ikhwan” dan perempuan menjadi “akhwat” ada konsekuensi sosial yang timbul. Bagi pelaku, terkadang menjebak mereka untuk merasa lebih baik dari yang bukan golongan mereka. Bagi orang lain yang melihat mereka, mereka dianggap sebagai representasi manusia dewa yang maksum. Problem akan terjadi manakala pelanggaran dari kalangan “ikhwan-akhwat” ini mengemuka di publik.

Contohnya, dari luar terlihat ikhwan-akhwat itu sholih-sholihah semacam itu. Tapi siapa tahu, dan saya kebetulan pernah tahu, bahwa ternyata akhwat yang shalihah (masyaAllah anggunnya) ternyata suka SMS sayang-sayangan dengan ikhwan yang shalih luar biasa di kampus. Dia telepon-teleponan seolah suami dan istri yang berbagi kebahagiaan, indahnya. Wkwkwkwk. Ketika realitas ini terangkat ke publik, timbullah kontroversi. Yang sejak awal jadi golongan anti-ikhwan-akhwat, kasus ini akan jadi bulan-bulanan buat membully. Yang sejak lama terlalu percaya dengan si akhi dan ukhti ini bisa mengalami syok berat, namun ada yang kembali normal, ada yang lantas membencinya dan mengata-ngatainya sebagai orang munafik.

Nah, maksud saya perilaku ekstrim anti-antian ini akan menjadikan kita salah sikap ketika melihat realitas kemanusiaan yang sebenarnya wajar. Ketika sebelum masuk kampus masih jadi laki-laki dan perempuan, lalu menjadi “ikhwan” dan “akhwat” berdasarkan penampilan dan aktivitas sehari-harinya kan tetap harus diapresiasi sebagai kemajuan, tapi jika mereka tetap begituan, ya itu kan juga penyakit mereka yang harus diatasi mereka sendiri, mereka harus ditemani biar sembuh. Jadi anti maupun pengagum, sama-sama anunya.

Contoh lain, saya kan termasuk orang yang doyan internet akut. Nah menurut saya dunia yang satu ini juga berpotensi membentuk jiwa hipokrisi yang ambivalen semacam itu. Ada kisah seorang yang diketahui shalih luar biasa, dia melarang kemungkaran luar biasa, dalam kajian-kajiannya dia sangat anti terhadap pornografi. Tapi suatu saat temannya meminjam laptop untuk keperluan mendesak. Dia mendapati sebuah folder yang namanya unik, dibuka, dan duaarrrrr, ternyata ……. wkwkwkwkw lanjutkan sendiri ya. Sang teman ini syok berat lalu berubah sikap membencinya. Perilaku temannya ini tentu konyol juga, seandainya dia tidak nritip tentu ga bakal lihat itu. Tapi terlanjur tahu, dan dia gagal menguasai dirinya untuk tetap mencintai temannya sebagai manusia, dengan tetap menentang perilaku yang tidak konsisten. Sang shalih yang ambigu ini tentu juga anu sekali, karena ternyata suka begitu, mbok ya pas ceramah jangan galak-galak gitu lah. Nah, ini contoh ekstrimisme yang aneh kan.

Akhirnya, saya mencoba membuat benteng dalam diri sendiri, dengan berposisi semoderat mungkin agar bisa terus belajar, belajar, dan belajar melihat kemungkinan, agar kita tidak terjebak pada perilaku hipokrisi semacam ini. Saya lebih sepakat dengan kaidah dakwah “keras terhadap diri sendiri, lemah lembut terhadap sesama”. Kalau mau menasihati, misuh-misuhi, hingga mengata-ngatai, ya pada diri sendiri. Tapi pada orang lain, sebisa mungkin dengan cara yang indah, sehalus mungkin, dan tidak mempermalukannya.

Sungguh, dunia sekarang dipenuhi segala fasilitas untuk menciptakan generasi yang berpenyakit hipokrit ambivalen semacam ini. Status Fesbuk, foto selfie, dan berbagai sarana tersedia. Betapa beratnya menjaga kemurnian niat dan ketulusan hati di zaman ini.

Semoga, saya terus ditolong oleh Allah agar tidak neka-neka. Jika sedang berdiskusi dengan politisi, semoga tidak terseret niat untuk nyari perhatian biar dikasih kursi. Jika sedang diskusi dengan cewek, semoga semua berjalan alami sesuai kepentingan yang disepakati, bukan sedang mbribik, apalagi mbulet-mbulet cuma buat show up kalau gue hebat. Kalau memang suka cewek, semoga tidak diperpanjang basa-basinya, karena urusan nikah itu sama bapaknya, bukan sama dia. Eaaaaa

Dan semoga pembaca status panjang ini menyerap seluruh isinya, bukan cuma bagian akhirnya. Karena saya berlepas diri dari segala prasangka yang mungkin timbul jika Anda terlalu fokus baca bagian akhirnya. Hahahaha

Juwiring, 12 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.