Orang-orang liberal menempatkan al Quran sebagai substansi dan menggunakan metodologi barat yang berakar dari materialisme untuk mengkajinya. Maka tidak perlu heran jika lahir kajian-kajian yang mengkritik al Quran dan Islam, lha wong al Quran ditempatkan sebagai obyek kajian.

Yang paling mutakhir adalah pragmatisasi ayat-ayat al Quran untuk kepentingan kapitalisme, dan ini lebih menjebak karena ia tidak vulgar seperti kajian yang bersifat kritik. Cara penghancurannya ke tengah umat tidak terlalu akademis, tapi lebih populer. Sisi emosional umat dikelabui dulu, lalu permainan dimulai dan umat sibuk menari-nari hingga jumud dalam jebakan itu.

Saya lebih sepakat dengan salah satu pengajaran guru saya bahwa al Quran adalah kitab metodologi kehidupan. Bahwa di dalamnya terdapat banyak kisah, ia bisa berfungsi ganda sebagai sumber informasi, namun yang paling mendasar dari al Quran adalah metodologi. Makanya semua hal semestinya dipandang dan dikaji dengan sudut pandang al Quran terhadapnya. Jadi yang penting adalah bagaimana kita berjuang untuk mengerti, bagaimana al Quran memandang segala hal. Maka dari itu, kita akan lebih selamat jika setiap hal berangkat dari “berdasarkan pemahaman saya atas al Quran sejauh ini, maka al Quran melihat peristiwa X ini ….”.

Tentu saja setiap saat kita harus selalu belajar dan memohon kepada Allah agar cahaya al Quran di-install-kan ke hati, akal, dan pikiran kita sehingga kita bisa merasakan bukti bahwa al Quran mampu menjelaskan segala sesuatu. Kita selalu berusaha menjaga ketawadhuan dengan mengatakan “menurut pemahaman saya terhadap al Quran sampai saat ini (sebagai tanda belajar yang tak berujung), al Quran melihat bahwa ….. adalah …..”, bukan langsung dijujug, “menurut ayat ini dan itu, pasti …..”

Ini zaman di mana kalimat tidak bisa hemat kayak zaman dahulu karena kerusakan umat tidak sekedar urusan keimanannya, tetapi sudah merembet pada filsafat, bahasa, dan kebudayaan. Makanya tidak perlu heran jika dimana-mana lebih sering terjadi salah paham yang berlanjut pada perseteruan pada permasalahan cabang, bukan pada permasalahan pokok. Karena keributan justru terjadi di tempat krecekan, makanya tidak heran jika masalah semakin banyak, meskipun seolah-olah kita sedang aktif menyelesaikan.

Problem dasarnya, kita sok ikut ribut soal labeling, tapi tanpa sadar kita sebenarnya juga tersesat dalam mainstream kerusakan itu. Kita yang sama-sama berpegang pada al Quran, justru bertingkah seperti jumudnya masyarakat Jawa klenik yang salah dalam menempatkan pusaka. Disangkanya pusaka itu seperti sumber kekuatan ajaib yang bisa memberi kekuatan supranatural sekejab dan sewaktu-waktu dapat diaktifkan sekehendak hati seperti di film-film fantasi. Demikian juga umat Islam sekarang yang kebanyakan juga terjebak dalam ritus serupa terhadap al Quran. Akhirnya, pasti Anda bisa menyimpulkan sendiri …

Saya percaya ada hal-hal ajaib di dunia ini, tapi ia hanya dapat berlangsung atas izin Allah, bukan sakkarepe manusia. Makanya seajaib-ajaibnya kejadian, tetap LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH AL ALIYY AL ADZIIM.

Ngawen, 10 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.