Karena nanti malam tidak berkesempatan ikut maiyahan rutin, refleksi aja dah yang bulan lalu.

Di Mocopat Syafaat bulan lalu, Cak Nan, pengelola maiyah Padhang Bulan Jombang bercerita bagaimana menjelang reformasi orang-orang ramai mengelu-elukan Cak Nun, karena berani memprotes Soeharto terang-terangan dan menggelar forum terbuka (Padhang Bulan). Orang-orang yang hadir sampai ribuan memadati kompleks tempat tinggal Cak Nun di Menturo.

Forum itu terus ramai dihadiri lautan manusia. Mereka tampak antusias karena Cak Nun dikenal berani mengkritik dan melawan kebijakan-kebijakan Soeharto. Sampai suatu ketika Cak Nun menyampaikan kritik kepada Amien Rais (yang juga menyuarakan tumbangnya Soeharto), akhirnya para pengikut Pak AR tidak ikut maiyah lagi di kesempatan berikutnya. Begitu pun saat Cak Nun bersuara tentang Gus Dur, akhirnya para pengikut Gus Dur pun tidak ikut maiyah berikutnya.

Sampai akhirnya maiyahan diliburkan beberapa bulan dan ketika dimulai hanya diikuti 200-an orang, karena di masa-masa tumbangnya orde Baru menuju orde (yang katanya) reformasi, berbagai kabar simpang siur dan aneka tuduhan mencuat di sana-sini. Dari sini Cak Nan berkesimpulan bahwa ternyata orang-orang itu ramai berkumpul karena yang dibenci Soeharto, bukan soal ketidakadilan dan ketidakbenaran. Mereka mendukung siapa dan demi apa, bukan karena memang berpegang pada prinsip kebenaran.

Menambah kisah Cak Nan, Cak Nun lalu bercerita saat dia masih dielu-elukan masyarakat, dirinya kerap jadi sasaran rebutan untuk salaman atau untuk diambili aksesorisnya, paling banter saut kupluknya. Ketika itu ada orang-orang yang mengawal Cak Nun secara sukarela. Begitu tahu ada yang nyaut kupluknya, pengawal ini lari mengejar orang yang menyaut kupluk Cak Nun tadi. Kejar-kejaran heroik pun terjadi sampai akhirnya kupluk tersebut berhasil direbut. Saat si pengawal tadi menghadap Cak Nun, dia bilang, “Cak, kupluknya buat saya saja ya Cak?”. Beliau lalu menganalogikan kebiasaan orang tadi dengan mentalitas kita sekarang. Kami pun tertawa ngekek.

Dua poin di atas setidaknya adalah apa yang sering terjadi hari ini. Makanya kubu-kubuan hebat begitu susah dicairkan. Belum lagi kebiasaan nyari untung di situasi genting semakin banyak terjadi. Maka sebagai generasi yang memang kenyataannya hidup di masa kini, ya mari sabar bahwa di sekitar kita ada banyak orang yang siap digerakkan jadi pendukung apa pun (tapi paling gampang mendukung siapa dan demi apa, bukan mendukung prinsip-prinsip kebenaran karena mempelajari kebenaran itu susah, panjang prosesnya, dan perlu dilakukan secara istiqomah secara terus menerus), selain itu kita juga harus bersabar karena banyak orang mau baik itu karena ada anunya. Eh anunya lagi.

Dan semoga kita bukan orang-orang yang nganu seperti itu.

Baturaden, 17 November 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.