Mendadak tulisan Cak Nun yang berjudul SAYA ANTI DEMOKRASI yang isinya kritik atas ketidakadilan opini dan perlakuan demokrasi yang diskriminatif pada ajaran Islam disebar ke mana-mana. Hahaha

Maafkan saya mbah yang mengenal tulisan-tulisan jenengan secara intens baru dalam 3-4 tahun terakhir. Dalam waktu sesingkat itu saya sadar, jenengan adalah salah satu orang yang diberi kawaskitan oleh Allah untuk melihat potensi kerusakan peradaban ini hingga beberapa dekade ke depan sejak tahun 1970-an.

Tak kurang peringatanmu lewat tulisan, teater, dan puisi kala itu. Sayangnya banyak yang gagal paham dan lebih bernafsu untuk membuat polemik sambil berebut kuasa. Dan itu adalah potret pilu sebagian umat Islam kini. Akhirnya sembarang kagetan dan kerap berlaku sporadis tanpa memahami koordinat sejarah, ruang, dan waktu.

Bahkan ketidakpahaman dan cara berpikir yang terpenggal-penggal membuat banyak orang jadi tukang stempel. Tak jarang stempel ngawur pun muncul dari pola pikir yang ngawur juga. Mulai nge-trend aliran satpam Tuhan yang punya previlege untuk mensertifikasi dan menindak semena-mena siapa pun yang berbeda dengan mereka. Saya pun pernah terpancing dalam jebakan konyol semacam itu. Alhamdulillah sekarang bisa membebaskan diri dari cara berpikir sesat ala kaum materialis semacam itu.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepadamu mbah sehingga bisa menemani kami yang masih sering gagal paham ini. Yang masih suka gresek sampah-sampah dunia dengan cara yang memalukan. Apalagi hari ini masjid pun jadi tempat jual beli ibadah, bukan lagi bentuk pengabdian hamba kepada pencipta-Nya. Apalagi di luar masjid, susah nyari kondisi alami yg aman dari logika kapitalisme, kecuali harap-harap cemas pada penjagaan niat.

Baru kali ini ada golongan manusia yang bisa ngatur-ngatur Gusti Allah. Entah dengan metode yang seolah-olah berlabel agama atau dengan ilmu sekuler yang membelenggu pola pikir, seolah-olah cara Allah mengatur itu mengikuti metode ilmu ciptaan mereka. Dan jutaan manusia pun beriman pada ajaran ini, meski mereka mengaku Islam. Inilah kehebatan manusia modern yang benar-benar kelewatan. Hebat.

Gunungkidul, 20 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.