Berbagai diskusi publik baik di kampus maupun di masjid yang akan berlangsung sampai beberapa tahun ke depan saya yakin hanya berada di ranah-ranah permukaan saja saking ruwetnya masalah yang menimpa kehidupan kita.

Bahkan di majelis maiyah yang sudah berlangsung 2 dekade itu, Cak Nun yang sudah menjelaskan hal-hal mendasar agar kita merubah cara berpikir kita yang sekarang masih jungkir balik akibat dominasi materialisme saja, masih sebatas memberi manfaat secara individu.

Artinya yang datang ke maiyahan sebenarnya kan ada orang dari birokrasi, mahasiswa, rakyat kecil, hingga kadang-kadang orang parpol juga. Tapi hingga hari ini kita belum merasakan greget secara pergerakan, artinya teman-teman yang bermaiyah saat ini memang masih ditakdirkan untuk tersembunyi dan terasing di dalam sistem global yang fasadnya luar biasa kayak gini.

Itulah mengapa Cak Nun selalu mengibaratkan bahwa maiyah itu hanya sekedar sesaji kepada Allah, untuk menunjukkan bahwa di tengah-tengah jungkir baliknya cara pandang kebanyakan manusia, masih ada segelintir yang mau bersusah-susah untuk membengkelkan pikirannya agar tidak terseret arus penyesatan yang dilakukan Dajjal. Dengan sesaji itu, semoga Allah ridha dan berkenan melindungi negeri ini dari bencana.

Ada sebagian yang mengaku ruwet dan susah menerima isi materi-materi maiyah. Tapi lebih banyak yang mendapatkan metode berpikir baru yang lebih integral untuk membedah setiap masalah sehingga tidak lagi mudah ditipu aneka informasi sampah. Dan demikianlah maiyah, sebuah metode pencerdasan bagi yang ingin mencari ilmu, bahkan juga hiburan bagi yang merasa penat, atau mungkin juga jadi ladang bisnis bagi yang sekedar mencari uang dari lautan manusia itu.

Ngawen, 6 November 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.